Untitled Document

 
Script InterMedia
 
HomeProfil Produk & Layanan | Tim Kerja | Portfolio | Kontak | Galeri Foto | Proposal RQC | Demo RQC
Untitled Document
Profil Yuhardin
Y U H A R D I N
CEO Script InterMedia

M: +62853 4292 1117
Pin BB: 3156C99B

Email: ceo@scriptintermedia.com
Fb: Yuhardin Ssi
 
 

    News
Google
 


Senin, 02-05-2011 
Profil Kab. Bungo, Jambi
 
Kabupaten Bungo sebagai salah satu daerah Kabupaten/kota dalam provinsi Jambi, semula merupakan bagian dari Kabupaten Merangin, sebagai salah satu kabupaten dari keresidenan Jambi yang tergabung dalam propinsi Sumatera Tengah berdasarkan Undang-Undang nomor 10 tahun 1948.

Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1956, Kabupaten Merangin yang semula Ibukotanya berkedudukan di Bangko di pindahkan ke Muara Bungo.
Pada tahun 1958 rakyat Kabupaten Merangin melalui DPRD peralihan dan DPRDGR bertempat di Muara Bungo dan Bangko mengusulkan kepada Pemerintah Pusat agar :

1. Kewedanaan Muara Bungo dan Tebo menjadi Kabupaten Muara Bungo Tebo dengan Ibukota Muara Bungo.
2. Kewedanaan Sarolangun dan Bangko menjadi kabupaten Bangko dengan Ibukotanya Bangko.

Sebagai perwujudan dari tuntutan rakyat tersebut, maka keluarlah Undang-undang Nomor 7 Tahun 1965 tentang pembentukan Daerah Kabupaten Sarolangun Bangko berkedudukan di Bangko dan kabupaten Muara Bungo Tebo berkedudukan di Muara bungo Yang mengubah Undang Undang Nomor 12 tahun 1956.

Seiring dengan pelantikan M.Saidi sebagai Bupati diadakan penurunan papan nama Kantor Bupati Merangin dan di ganti dengan papan nama Kantor Bupati Muara Bungo Tebo, maka sejak tanggal 19 Oktober 1965 dinyatakan sebagai, Hari Jadi kabupaten Muara Bungo Tebo. Untuk memudahkan sebutannya dengan keputusan DPRGR kabupaten daerah Tingkat II Muara Bungo Tebo, ditetapkan dengan sebutan Kabupaten Bungo Tebo.

Seiring dengan berjalannya waktu melalui Undang-Undang Nomor 54 Tahun 1999 Kabupaten Bungo Tebo dimekarkan menjadi 2 Wilayah yaitu Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo.

Data Tahun 2005, terdapat pemekaran sebanyak 8 Kecamatan sehingga total menjadi 17 kecamatan. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Pasar Muara Bungo, Rimbo Tengah, Bungo Dani, Bathin III, Tanah Tumbuh, Rantau Pandan, Jujuhan, Tanah Sepenggal, Limbur Lubuk Mengkuang, Pelepat, Pelepat Ilir, Muko-Muko Bathin VII, Bathin II Babeko, Tanah Sepenggal Lintas, Jujuhan Ilir, Bathin III Ulu dan Bathin II Pelayang.



ARTI LAMBANG





Lambang bagi suatu daerah memiliki arti yang teramat dalam. Dari suatu lambang dapat di ketahui karakteristik suatu daerah dan juga kehidupan masyarakatnya. Begitu bermaknanya arti sebuah lambang, maka untuk membuatnyapun tidak segampang membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan orang-orang yang pandai untuk membuat suatu lambang dan arti dari lambang yang dibuat tersebut.

Sampai saat ini, mungkin masih sedikit masyarakat Bungo yang mengetahui arti dari setiap gambar dan garis yang ada pada lambang Kabupaten Bungo.



Jumlah Kelopak Bunga Jambu Lipo Sebanyak 8 Helai

Melambangkan Kabupaten Bungo terdiri dari 8 buah eks marga yaitu Bathin II Ilir, Bathin II Babeko, Bathin VII Pelepat, Bathin III Ulu, Bathin V/VII Tanah Tumbuh, Tanah Sepenggal dan Jujuhan. Kemudian Bathin II Ilir dan Bathin II Babeko menjadi Kecamatan Muara Bungo, Bathin II Ulu dan Bathin VII menjadi Kecamatan Rantau Pandan, Marga Pelepat Menjadi Kecamatan Pelepat, Bathin V/VII menjadi Kecamatan Tanah Tumbuh, Marga Tanah Sepenggal menjadi Kecamatan Tanah Sepengggal dan Marga Jujuhan menjadi Kecamatan Jujuhan.



Ketayo Pelito dan Keris dengan latar belakang gung

Ketoya Pelito merupakan alat penerang/lampu, karya khas masyarakat Bungo serta Simbolis mengandung arti sebagai pelita yang tak kunjung padam adalah simbol masyarakat daerah ini yang tak kenal menyerah.



Keris dengan Lima Letukan Ujung Lancip yang berdiri tegak lurus dibelakang ketayo

Adalah lambang perjuangan menentang penjajahan dan kemelaratan, dimana hal ini merupakan semangat juang terus hidup sepanjang zaman berdasarkan dan dipimpin oleh hikmah.

Serta melambangkan lima induk UU sebagai dasar hukum (adat), dasar kehidupan dan penghidupan masyarakat.



Kubah Mesjid

Melambangkan keagamaan dan ketaqwaan serta kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa, di mana masyarakat Kabupaten Bungo sangat meyakini dalam semua aspirasi dan etika masyarakat tidak akan tercapai tanpa ridho Tuhan YME, karena kepada-Nya lah manusia berserah diri.



Sembilan Belas Biji Padi dan Sepuluh Kuntum Bungo Dani saling impit rangkai diikat sebuah pita

Melambangkan kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat. Sedangkan jumlah biji sebanyak 19 buah sebagai lambang 19 dan 10 kuntum Bungo Dani sebagai lambang bulan 10, dimana tanggal dan bulan ini Daerah Tingkat II Kabupaten Bungo Tebo di resmikan yang tetap dipertahankan simbol Kabupaten Bungo sebagai kabupaten induk.



Pita Bertulis Motto Kabupaten Bungo dalam bahasa daerah bertulis langkah serentak limbai seayun yang bermaksud :

v Sebagai pernyataan bahwa anak negeri mempunyai sifat watak dan pendirian. Satu kata lahir dengan batin, sekato mulut dengan hati, satu kato dengan pembicaraan.

v Anak negeri seiyo sekato bersama-sama pemimpin dalam membangun derah, mengutamakan musyawarah dan mufakat, memelihara persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

v Masyarakat Kabupaten Bungo yang berdiam didalam negeri berpagar.



Undang, rumah berpagar adat, tepian berpagar baso, haruslah tudung menudung bak daun sirih, jahit menjahit bak daun petai, hati gajah sama dilapah, hati tungau sama dicecah, adat sama diisi, lembgo sama-sama dituang, peritah samo dipatuhi, bak saluko adat Berat samo dipikul ringan samo dijinjing, kebukit samo mendaki kelurah samo menurun ado samo dimakan idak samo dicari, seciap bak ayam sedencing bak besi, kok malang samo merugi bak balado samo mendapat serta terendam samo basah terampai samo kering.

Anak Negeri seukur, satu kata batin dengan penghulu (pimpinan) selarik sejajar, cerdik sehukum, malam seagama, tuo-tou searah seayun, anak-anak negeri seiyo sekato barulah bumi aman padi menjadi, rumput mudo kerbaunyo gemuk, baumo mendapat padi, menambang mendapat emeh (emas), buah-buahan segalo menjadi, baru basuo bak kato seluko adat keayik cemetik keno, kedarat durian gugur, lemang terbujur diatas dapur, anak negeri aman makmur.



Garis tebal berliku-liku sebanyak empat buah melambangkan adanya empat sungai besar dalam daerah Kabupaten Bungo yaitu Sungai Batang Tebo, Sungai Batang Bungo, Sungai Batang Pelepat dan Sungai Batang Jujuhan, dimana sungai-sungai tersebut sangat potensial sebagai sumber kehidupan sosial ekonomi masyarakat.



Dua garis tebal vertikel dan dua buah garis horizontal yang menjadi enam buah ruang yang hampir sama ukurannya.

Melambangkan bahwa Kabupaten Bungo adalah sebanyak enam kecamatan yaitu Muara Bungo, Tanah Tumbuh, Pelepat, Tanah Sepenggal, Rantau Pandan dan Jujuhan.



Rantai yang terletak pada posisi antara dua garis tebal melambangkan Kabupaten Bungo sebagai kabupaten induk berdiri tahun 1945. Sebagai simbol persatuan dan disiplin, sedangkan mata rantai yang berjumlah 65 buah melambangkan tahun 65 (1965) sebagai tahun berdirinya Kabupaten Bungo.



WARNA LAMBANG

v Merah, lambang keberanian yang terletak pada tulisan langkah Serentak Limbai Seayun dan Kabupaten Bungo serta pada api.

v Hijau, lambang kesuburan terletak pada dasar lambang (hijau muda) dan kubah mesjid.

v Kuning, lambang kebesaran terletak pada padi, gung dan latar belakang kubah mesjid.

v Hitam, lambang kesetiaan terletak pada dua garis tebal pinggir dan garis pembagi lambang.

v Putih, lambang kesucian terletak pada pita, kelompak Jambu Lipo dan pada Bungo Dani.



PERGERTIAN LAMBANG

v Keagamaan, disimbolkan dengan melambangkan Kubah Mesjid.

v Perjuangan, disimbolkan dengan Keris dan Pelito.

v Perikehidupan rakyat, disimbolkan dengan padi dan Garis Sungai.

v Kebudayaan, disimbolkan dengan Ketayo dan Gung.


GEOGRAFI DAN DEMOGRAFI

A. Geografi

1. Kabupaten Bungo terletak di bagian Barat Propinsi Jambi dengan luas wilayah sekitar 7.160 km2. Wilayah ini secara geografis terletak pada posisi 101 27 sampai dengan 102 30 Bujur Timur dan di antara 1 08 hingga 1 55 Lintang Selatan.
2. Berdasarkan letak geografisnya Kabupaten Bungo berbatasan dengan Kabupaten Tebo dan Kabupaten Darmasraya di sebelah Utara, Kabupaten Tebo di sebelah Timur, Kabupaten Merangin di sebelah Selatan, dan Kabupaten Kerinci di sebelah Barat.
3. Wilayah Kabupaten Bungo secara umum adalah berupa daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 70 hingga 1300 M dpl, di mana sekitar 87,70 persen di antaranya berada pada rentang ketinggian 70 hingga 499 M dpl. Sebagian besar wilayah Kabupaten Bungo berada pada Sub Daerah Aliran Sungai (Sub-Das) Sungai Batang Tebo. Secara geomorfologis wilayah Kabupaten Bungo merupakan daerah aliran yang memiliki kemiringan berkisar antara 0 8 persen (92,28 persen).
4. Sebagaimana umumnya wilayah lainnya di Indonesia, wilayah Kabupaten Bungo tergolong beriklim tropis dengan temperatur udara berkisar antara 25,8 - 26,7 C.Curah hujan di Kabupaten Bungo selama tahun 2004 berada di atas rata-rata lima tahun terakhir yakni sejumlah 2398,3 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 176 hari atau rata rata 15 hari per bulan dan rata rata curah hujan mendekati 200 mm per bulan

B. Demografi

Secara administratif, Kabupaten Bungo yang berpenduduk 381.221 jiwa (akhir tahun 2005), terdiri dari 17 kecamatan yang meliputi 13 kelurahan dan 124 desa. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah Pasar Muara Bungo, Rimbo Tengah, Bungo Dani, Bathin III, Tanah Tumbuh, Rantau Pandan, Jujuhan, Tanah Sepenggal, Limbur Lubuk Mengkuang, Pelepat Ilir, Muko-Muko Bathin VII, Bathin II Babeko, Tanah Sepenggal Lintas, Jujuhan Ilir, Bathin III Ulu dan Bathin II Pelayang.

SARANA PRASARANA

Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai akan menjadi modal penting dalam pembangunan. Sarana yang memadai akan menentukan terhadap pertimbangan para investor dan masyarakat luas untuk turut menanamkan modalnya di satu wilayah. Dalam presfektif otonomi daerah, secara jelas dinyatakan bahwa salah satu tugas daripada pemerintah daerah adalah untuk meningkatkan daya saing satu daerah. Dalam kaitan ini maka diyakini bahwa daya saing salah satunya dapat ditingkatkan melalui penyiapan sarana dan prasarana umum. Secara ekonomi hal ini dapat dipahami karena dengan adanya penyiapan sarana dan prasarana akan dapat memasyarakat efisien makro. Bilamana efisiensi makro dapat diwujudkan maka secara intrisik wilayah tersebut akan lebih berdaya saing dibanding dengan wilayah lain

A. Air Bersih

Upaya penyediaan air bersih merupakan hal yang serius yang harus diperhatikan oleh Pemerintah Daerah. Pemerintah Kabupaten Bungo melalui PDAM terus meningkatkan upaya pemenuhan air bersih secara bertahap. Jumlah pelanggan PDAM Bungo pada tahun 2005 adalah sebanyak 4.105 dengan Kapasitas Produksi Air sebesar 1.491.264 M3 dan jumlah air terjual sebanyak 897.454 M3..

B. Telepon

Pada Tahun 2001 jumlah Saluran Telepon Terpasang (STT) di Kabupaten Bungo berjumlah 2.301 sambungan, dan hingga Tahun 2005 menjadi 3.338 sambungan, atau mengalami peningkatan sebesar 45 % atau rata-rata sebesar 9 % per tahun, ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bungo terutama Muara Bungo termasuk daerah dengan aksesesibilitas tinggi.

C. Listrik

Kinerja penyediaan listrik dan tingkat elektrifikasi di Jambi umumnya dan di Kabupaten Bungo tidak lepas dari kinerja dan pengelolaan Interkoneksi antarsumatera. Sebagaimana diketahui bahwa dengan telah terwujudnya Sumatera yang terkoneksi maka daerah yang kekurangan listrik akan dapat dipasok oleh wilayah yang kelebihan listrik. Untuk Jambi misalnya telah di dapat empat tempat yang dapat digunakan sebagai sarana Sumatera Interkoneksi yaitu Bungo, Bangko, Aurduri dan Payo Sillincah. Dengan adanya fasilitas ini maka sesungguhnya pasokan listrik akan dijamin oleh daerah pembangkit yaitu Sumatera Bagian Selatan dan Sumatera Bagian Utara yang masing-masing berpusat di Palembang dan Medan. Khusus untuk Bungo daya terpakai belum mencapai 40 persen, artinya bahwa permasalahan pasokan listrik dengan adanya Sumatera Interkoneksi dapat dipasok

D. Jalan dan Jembatan

Panjang jalan di Kabupaten Bungo adalah sepanjang 957,67 Km yang terdiri dari : jalan aspal 328,84 Km, jalan kerikil 199,01 Km dan jalan tanah 307,37 Km.

E. Perhubungan Udara

Pembangunan perhubungan udara ditujukan untuk menyediakan prasarana bandar udara sebagai prasarana penerbangan guna menunjang aktivitas suatu wilayah, hal ini perlu ditata secara terpadu untuk mewujudkan penyediaan jasa kebandarudaraan sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Hal ini diatur dalam UU No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang. UU No. 15 Tahun 1992 tentang penerbangan, dan yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2001 tentang kebandarudaraan serta Keputusan Menteri Perhubungan KM 48 Tahun 2002 tentang Penyelenggaraan Bandar Udara Umum, serta Keputusan Menteri Perhubungan No. KM. 83 Tahun 1998 tentang Pedoman Proses Perencanaan dilingkungan Departemen Perhubungan.
Terkait dengan letak geografis Kabupaten Bungo yang sangat strategis dan sejumlah potensi serta sumber daya alam yang belum dikembangkan secara optimal. Maka dirasa perlu untuk meningkatkan sarana dan prasarana untuk meningkatkan aksesibilitas Kabupaten Bungo dengan daerah-daerah lain. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Bungo berencana untuk membangun Bandar Udara.
Setelah melalui study pemilihan lokasi dengan mempertimbangkan berbagai aspek teknis, aspek operasional penerbangan, aspek lingkungan dan aspek ekonomi finansial, ditetapkanlah lokasi Bandara di Desa Sungai Buluh Kecamatan Muara Bungo dan telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan No. KM. 52 Tahun 2005 tanggal 19 September 2005 tentang Penetapan Lokasi Bandar Udara di Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Pembangunan Bandar Udara ini direncanakan akan selesai pada Tahun 2009. Sampai saat ini dana yang telah disalurkan sebesar Rp. 1,050 M yang dipergunakan untuk pembebasan tanah, tanam tumbuh seluas 25,5 Ha dan pemukiman sebanyak 17 unit.

F. Perumahan dan Pemukiman

Perumahan dan pemukiman merupakan salah satu infrastruktur yang sangat penting dalam pembangunan. Hal ini dikarenakan perumahan dan pemukiman merupakan kebutuhan manusia, oleh karena itu dibidang perumahan dan pemukiman perlu mendapat perhatian dan penanganan yang serius dari Pemerintah baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

G. Pasar

Pasar dalam arti lokasi pertemuan antara pembeli dan penjual memegang peranan penting dalam pengembangan satu wilayah. Ketersediaan pasar khususnya di tingkat kecamatan menjadi penting, karena akan mendukung terjadinya proses pertukaran dan sekaligus mendukung penyediaan informasi bagi masyarakat.
Di Kabupaten Bungo terdapat banyak pasar, umumnya di setiap kecamatan dan desa mempunyai pasar sendiri, hanya saja sifatnya yang berbeda. Ada pasar yang ramainya pada hari-hari tertentu saja, seperti hari Kamis di Tanah Tumbuh, hari Rabu di Lubuk Landai, dan hari Minggu di Muara Bungo. Ada juga pasar yang ramainya pada sore hari seperti di Sungai Ipuh Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang. Dari sekian banyak pasar, yang terbesar ada di Kecamatan Muara Bungo dengan jumlah kios sebanyak 126 kios.

H. Pendidikan

Aspek pendidikan merupakan aspek utama dalam upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia, yang dimulai dari pendidikan prasekolah sampai ke Perguruan Tinggi. Untuk menggambarkan kondisi pendidikan penduduk di Kabupaten Bungo, dapat dilihat dari angka melek huruh, rata-rata lama sekolah, angka partisipasi murni dan angka partisipasi kasar. Angka melek huruf Tahun 2002 sebesar 94,6 % dan meningkat menjadi 95,6 % Tahun 2004. Bila dibandingkan dengan Kabupaten/Kota lain di Propinsi Jambi, maka pada Tahun 2002 menempati rangking 5 dan Tahun 2004 rangking 6. Rata-rata lama sekolah Tahun 2002 adalah 6,9 tahun dan meningkat menjadi 7,4 tahun pada Tahun 2004.


Visi dan Misi Pembangunan Kabupaten Bungo

Visi :
"Maju dan Sejahtera Bersama"

Misi :
1. Pengembangan potensi lokal guna mengembangkan
masyarakat baik di perkotaan maupun di perde-
saan secara luas.
2. Peningkatan kualitas sumber daya manusia.
3. Meningkatkan dan mengembangkan produk dan
potensi unggulan daerah.
4. Meningkatkan upaya pengelolaan sumber daya
alam, sumber daya hutan dan mineral berwawasan
lingkungan.
5. Menurunkan angka pengangguran


A. Rumah Adat

Rumah adat pada hakikatnya adalah lambang dari adat lamo pusako usang, oleh karena itu, setiap unsur dari bangunan rumah adat itu mempunyai arti yang terkait pada adat lamo pusako usang, dengan demikian jelaslah bahwa sebuah rumah adat berbeda dengan rumah rakyat biasa. Dalam membangun rumah haruslah diperhitungkan benar-benar, baik bahan yang digunakan, bentuk bangunan dan arti dari setiap bagian-bagian bangunan itu.

Rumah adat Bungo mempunyai ciri sebagi berikut:
1. Sendi/ Pondasi
Sendi/ Pondasi terdiri dari batu sungai, ini melambangkan melompat tempat tumpuan, menyincan tempat landasan.
2. Tiang Rumah
Tiang bulat bersegi delapan, menunjukkan pucuk undang nan delapan. Banyak tiang dua puluh, kaki tiang biasa dan panjang bersudut empat bertarah licak, seimbang samo satiap sudut, diatas bersending segi delapan.
3. Lantai
Segalo nan ditanai dilantai nan sebilah, segalo yang dilayung dek atap nan sebengkawan, dan segalo nan dilingkung dek kungkung nan empat, itu adalah pengertian adat dengan lembaga didalam rumah.
4. Atap Ijuk
Atap yang terdiri dari ijuk melambangkan Adat nan idak lapuk dek hujan nan idak lekang dek paneh.
5. Atap patah di penuturan
Melambangkan pulai batingkat naik meninggal rusuk dan buku, manusia betingkat turun meninggalkan waris dan pusako.
6. Tanggo
Tanggo sepan tiado memakai pelanta, maksudnyo tanggo itu langsung ke bendul rumah tujuannyo adalah tiap-tiap sesuatu hajat dan maksud sebainya langsung sajo dan tanpa perantara, atau menti dan disinilah yang dikatokan adat.
7. Pintu Masuk
Hal ini menegaskan bahwa urut pangkal adat itu adalah satu, yaitu bena dan kebenaran.
8. Jendela Tigo
Lambang dari ico pakai, yaitu aturan-aturan hidup yang terpakai sehari-hari, yaitu peraturan adat, peraturan syarak, dan peraturan pemerintah.
9. Ruang
a. Ruang Tengah
Ruangan tengah terdapat bendul jati yang artinya hingga batas larang pantang, nan terlukis di bendul jati, nan terpahat di tiang tuo.
b. Ruang dalam rumah terbagi dua bagian :
Bagian rendah separo kedepan disebut sebagai bendul di tepi, boleh tamu duduk disana.
Bagian rendah separo kebelakang (pinteh) sebaris bendul di tengah, hanya untuk yang punya rumah, tidak boleh tamu duduk disana, terkecuali dalam acara adat untuk tempat duduk dalam acara adat tertentu.
10. Dapur
Dapur terletak disebelah kiri pangkal rumah, berfungsi untuk tempat ajun letak alat-alat dapur.
11. Motif Ukiran
Bagian puncak dengan motif tampuk manggis melambangkan dalam hukum nenek mamak, kalau manis ditelan, kalau pahit diludah. Dan motif lain keluk paku kacang belimbing melambangkan, anak dipangku kemenakan dibimbing, orang datang dipategangkan.

B. Pakaian

Pakaian adat adalah pakaian yang dipakai oleh Pimpinan Adat.
Pakaian Pimpinan Adat.
Pakaian Pimpinan Adat yang ada sekarang mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan pakaian pimpinan adat semasa pemerintahan kolonial Belanda dulu, untuk yang setingkat Penghulu (Kepala Kampung) dan Pesirah (Kepala Marga) bentuk dan rupanya adalah sebagi berikut :
a. Berupa benda pusaka
b. Senjata penambah wibawa
c. Tongkat, kancing baju, peci yang diberikan Pemerintah Kolonial Belanda
d. Pakaian yang ditetapkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Pakaian Adat Perkawinan

1 Pakaian Penganten Wanita
a. Rambut bersanggul lipat pandan dan pakai tusuk konde (sunting)
b. Subangnya, gambang dan krabu.
c. Kalung berwarna, batang senyanit dan kalung tampang kundu, dan kalung Bungo.
d. Gelangnya, gelang berongsong (gelang kapuk) ditangan kiri dan kanan, sekurang-kurangnya tiga atau empat buah setiap tangan.
e. Gelang kaki, kiri kanan sekurang-kurangnya dua buah, berbentuk rotan berukir dan kepalanya runcing berbunga.
f. Bajunya, baju kurung berlengan tanggung dan lebar, dengan hiasan :
1. Bagian bawah baju berhias benang bersulam emas
2. Lengan baju bagian bawah, di hias dengan sulaman pucuk rebung, yang disulam dengan benang mas.
3. Dada baju di hias dengan sulaman bunga, masing-masing kiri dan kanan, empat tangkai bunga sulaman.
g. Sarung tenunan asli, warna merah tua (kain songket)
h. Selendang rawo, ujung selendang pakai jambul-jambul emas.
i. Di pinggang memakai pending mas
j. Pakai cincin pacat kenyang di jari manis kanan dan kiri dua sebelah.

2 Pakaian Penganten Pria
a. Kepala mengenai dita (daster) gagak hinggap dari tenunan asli.
b. Baju jas tutup, lengan pangjang. Ujung lengan baju bersulamkan pucuk rebung dengan benang mas. Demikian juga pada dada kanan diberi sulaman dengan benang mas.
c. Celana gunting cina, dengan ikat pinggag dengan kain tenunan asli dari warna merah hati ayam.
d. Pakai keris terapong, dan beramben dengan lajang serong, tenunan asli pakai jambul-jambul.

(Sumber: bungokab.go.id)
 

Komentar:




Home : scriptintermedia.com
 
Berita Lain
Pilkada Sulsel Jadi Ajang Pemanasan Pilpres 2014

Pasangan Calon Perlu Konsultan Hukum

Nomor Urut pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Jepara 2012

2012, Tahun Pilgub Sulsel

Pemilukada Serentak Bisa Jadi Bumerang

2012, Jateng akan Gelar Pilkada di Lima Daerah

Biografi/Profil Muhammad Nazar


Untitled Document
 



    Portfolio Real Quick Count Pilkada

- Pilgub Sulteng (Sulawesi Tengah)
- Pilgub Banten
- Pilgub Sulbar (Sulawesi Barat)
- Pemilukada Kota Jogja
- Pemilukada Kab. Buru, Maluku
- Pemilukada Torut Put. 2
- Pemilukada Malinau, Kaltim
- Pemilukada Kubar, Kaltim
- Pemilukada Rokan Hulu, Riau
- Pemilukada Nunukan, Kaltim
- Pemilukada Sragen, Jateng
- Pemilukada Kaur, Bengkulu
- Pemilukada Sarolangun, Jambi

Selanjutnya...



Untitled Document
 

 

    Artikel IT
Inilah Cara Internet Selamatkan Jepang

Pentingnya Teknologi Informasi untuk kesinambungan bisnis

Laporan Malware 2010: 10 Ancaman Teratas Setahun Terakhir

Inilah Inovator Muda Finalis IWIC 2010

PIN BlackBerry Jadi Alat Jejaring Sosial

Pendiri Facebook Menjadi Tokoh Tahun Ini

Ancaman Baru di Era Twitter dan Facebook

    IT News
Plus Minus Windows 8

Daftar 17 Teknologi Akan Memudar di 2012

Sulap Akun Fb jadi Sarana Promosi Diri

10 Kisah Terbesar Dunia Teknologi di 2011

5 Jurus Menangkal Rayuan Virus di Chat Facebook

5 Kiat Aman Belanja Online

10 Teknologi Strategis untuk 2011

    Berita Umum
2 Pembalap Bone Juara di Clas Mild Road Race

TNBNW Rusak, Gorontalo Bisa Tenggelam

Asuransi Delay Diberlakukan Januari 2012

Syahrul Jadi Ketua APPSI, Muallim Ketum Forsesdasi

Nanan Soekarna Ketua Umum PP IMI

Abraham Samad pimpin KPK

Peluang Kajian Keterbukaan Informasi Publik

+ Index   
 Copyright ©2010 Script Intermedia - All rights reserved
 Please send any comments to  webmaster@scriptintermedia.com