Untitled Document

 
Script InterMedia
 
HomeProfil Produk & Layanan | Tim Kerja | Portfolio | Kontak | Galeri Foto | Proposal RQC | Demo RQC
Untitled Document
Profil Yuhardin
Y U H A R D I N
CEO Script InterMedia

M: +62853 4292 1117
Pin BB: 3156C99B

Email: ceo@scriptintermedia.com
Fb: Yuhardin Ssi
 
 

    News
Google
 


Sabtu, 30-10-2010 
Cara Atasi Banjir dan Macet di Indonesia, Konsep Four in One, Negara dan Daerah Diuntungkan
 
BANJIR, macet, dan minimnya air bersih merupakan masalah kompleks di Jakarta, yang hingga kini tak terselesaikan. Namun, Ahmad Lanti, pria kelahiran Makassar 68 tahun silam ini punya solusi jitu untuk menyelesaikannya sekaligus.

 

Awal pekan ini, ibukota negara, Jakarta, dikepung banjir dan macet total di mana-mana. Aktivitas sebagian besar warga pun lumpuh. Hal itu membuat Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dihujani kritik yang tajam melalui berbagai media, dari twitter sampai facebook. Celakanya, persoalan banjir dan macet itu, bahkan dikaitkan-kaitkan juga dengan soal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Dalam media pertemanan itu, Foke, sapaan akrab Fauzi diprediksi tidak akan menang lagi dalam Pilgub pada pada 2012 mendatang. Daerah Khusus Ibukota (DKI) diperkirakan masih dilanda banjir hingga 2012. Persoalan banjir dan macet tidak hanya dialami Jakarta, tetapi juga dialami oleh daerah lainnya di negeri ini, termasuk Makassar yang pembangunannya terus menggeliat.

Padahal untuk mengatasi banjir itu, ada konsep yang pernah diutarakan putra asal Sulawesi Selatan (Sulsel), Ahmad Lanti, yang boleh disebut Four in One itu bisa menjadi solusi yang paling efektif. Konsep itu disebutnya dengan istilah Multi Purpose Deep Tunnel (MPDT).

Pria yang sudah puluhan tahun merantau di Jakarta ini baru saja merayakan ulang tahunnya ke-68 di restoran Riung Tenda, hanya beberapa ratus meter dari kantornya di Jalan Penjernihan II Jakarta Pusat. "Ayo makan." Demikian kalimat pertama Achmad Lanti saat menyambut kedatangan kami.

Achmad memang terkenal suka mentraktir. Beberapa anak buahnya yang ikut santap siang bersama kami mengakuinya. "Saya sudah lama ikut pak Lanti. Pergi ke tempat makan adalah salah satu kegemarannya," ujar salah seorang karyawan Lanti.

Tak heran, meski sudah berusia 68 tahun, Lanti masih bertubuh bugar, punya semangat, terutama ketika diajak berbincang soal banjir Jakarta. Banjir Jakarta sudah menjadi bagian kehidupan Acmad Lanti. Sejak tahun 1976, Lanti sudah mengabdi mengatasi persoalan banjir untuk beberapa gubernur, mulai dari Soeprapto, Suryadi Sudirja, hingga Soetiyoso pernah memanfaatkan jasa Lanti.

Kawasan Cengkareng merupakan salah satu kawasan yang pernah ditangani Lanti. Tahun 1979, saat itu Jalan Thamrin yang merupakan pusat Jakarta tenggelam. "Saya kemudian dipanggil. Dan akhirnya terbangunlah proyek Waduk Cengkareng untuk memotong aliran air langsung ke Jakarta," kenang Lanti.

Lanti begitu paham dengan banjir di Jakarta. Secara keseluruhan, kata dia, pengendalian banjir Jakarta mengadopsi konsep Belanda yang sebelumnya sudah membuat banjir kanal Van Brink. Sampai sekarang di daerah Dukuh Atas, banjir kanal tersebut masih berfungsi.

Secara spesifik Jakarta menggunakan tiga konsep. Pertama, semua sungai jangan sampai membuat banjir sehingga harus langsung dipotong ke laut. "Makanya dibuat Waduk Cengkareng, dan banjir kanal timur," kata Lanti.

Konsep kedua, hujan lokal bisa dikendalikan dengan dua pendekatan. Pertama untuk daerah selatan, seperti Dukuh Atas dan yang lebih tinggi dari laut biarkan saja dia mengalir sendiri ke laut. Sementara daerah di utara seperti Ancol, Kapuk, dan Tanjung Priok yang 40 persen berada di bawah permukaan laut, solusinya adalah membuat folder. "Air dimasukkan ke dalam waduk. Dari sana dipompa ke laut," jelasnya.

Keempat, pemerintah akan membuat benteng ke laut, agar pasang air laut tidak masuk. "Ini juga dipertuntukkan buat daerah-daerah yang di utara Jakarta," jelas Project Manajer Kemitraan Australia-Indonesia Kementerian PU ini.

Sekarang ini konsep pertama sudah selesai semua. Banjir Kanal Timur sudah berfungsi, banjir kanal Belanda masih ada, dan Waduk Cengkareng masih layak digunakan. Sayangnya, konsep dua, tiga, dan empat belum selesai.

Lanti lantas teringat dengan sebuah megaproyek yang pernah ia tawarkan ke mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso. Konsep yang merupakan penyempurnaan program penanganan banjir sejumlah negara maju ini diberi nama Multi Purpose Deep Tunnel (MPDT).

MPDT merupakan proyek pembangunan terowongan raksasa yang membentang dari Jakarta Selatan hingga ke Jakarta Utara, melewati Jakarta Pusat. Jika di negara lain, terowongan hanya digunakan untuk saluran air, atau jalan tol, maka Lanti memadukannya.

Dalam rancangan yang dibuat beberapa tahun tersebut, Lanti menggambarkan bahwa di dalam terowongan akan ada jalan tol, saluran air, sekaligus membuat instalasi yang akan mengubah air limbah menjadi air minum.

"Konsep ini sudah disetujui Gubernur Sutiyoso. Sejumlah pihak swasta juga sudah siap mendanai, karena proyek ini mendatangkan keuntungan. Sayangnya Gubernur Fauzi Bowo enggan melanjutkan," jelasnya. Padahal, dengan konsep itu, sudah ada perusahaan swasta yang mau melakukan investasi murni dengan konsesi pengelolaan selama 30 tahun. Apabila konsep MPDT itu jadi maka negara atau pun daerah akan memperoleh pendapatan yang jumlahnya tidak sedikit.

Ia juga mengungkapkan, tidak ada konsep instan yang berdampak signifikan terhadap banjir Jakarta. Pembersihan kanal dan sungai dari sampah juga tidak banyak membantu. "Persoalannya sekarang adalah bagaimana mengantisipasi datangnya hujan lokal dan laut pasang. Drainase harus diperbesar, selokan diperbesar, dan terus dikeruk. Jangan dekat musim hujan baru dikerjakan," kata dia.

Achmad Lanti mengatakan, kemacetan dan banjir di Jakarta tidak hanya disebabkan kondisi ibukota. Banjir, macet, dan sejumlah masalah publik lainnya juga merupakan akibat dari pertumbuhan daerah di sekitar, seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kendalanya, daerah tersebut berada pada wilayah admistrasi yang berbeda. "Konsep pengendalian banjir adalah regional. Hanya saja, karena daerah tersebut terpecah-pecah, maka kepala daerahnya punya program sendiri-sendiri," jelas Achmad di rumah makan Riung Tenda, Jakarta Pusat, Selasa 27 Oktober.

Konsep pengendalian banjir dan macet secara regional ini pernah dikeluarkan mantan Gubernur DKI Sutiyoso dengan nama Megapolitan. "Harusnya ada menteri yang bisa mengkoordinasikan pembangunan ini. Sehingga kemacetan, air bersih, dan masalah publik lainnya bisa diantisipasi secara terpadu," kata Achmad. (fmc)

(Sumber: Fajar)
 

Komentar:




Home : scriptintermedia.com
 
Berita Lain
Pilkada Sulsel Jadi Ajang Pemanasan Pilpres 2014

Pasangan Calon Perlu Konsultan Hukum

Nomor Urut pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Jepara 2012

2012, Tahun Pilgub Sulsel

Pemilukada Serentak Bisa Jadi Bumerang

2012, Jateng akan Gelar Pilkada di Lima Daerah

Biografi/Profil Muhammad Nazar


Untitled Document
 



    Portfolio Real Quick Count Pilkada

- Pilgub Sulteng (Sulawesi Tengah)
- Pilgub Banten
- Pilgub Sulbar (Sulawesi Barat)
- Pemilukada Kota Jogja
- Pemilukada Kab. Buru, Maluku
- Pemilukada Torut Put. 2
- Pemilukada Malinau, Kaltim
- Pemilukada Kubar, Kaltim
- Pemilukada Rokan Hulu, Riau
- Pemilukada Nunukan, Kaltim
- Pemilukada Sragen, Jateng
- Pemilukada Kaur, Bengkulu
- Pemilukada Sarolangun, Jambi

Selanjutnya...



Untitled Document
 

 

    Artikel IT
Inilah Cara Internet Selamatkan Jepang

Pentingnya Teknologi Informasi untuk kesinambungan bisnis

Laporan Malware 2010: 10 Ancaman Teratas Setahun Terakhir

Inilah Inovator Muda Finalis IWIC 2010

PIN BlackBerry Jadi Alat Jejaring Sosial

Pendiri Facebook Menjadi Tokoh Tahun Ini

Ancaman Baru di Era Twitter dan Facebook

    IT News
Plus Minus Windows 8

Daftar 17 Teknologi Akan Memudar di 2012

Sulap Akun Fb jadi Sarana Promosi Diri

10 Kisah Terbesar Dunia Teknologi di 2011

5 Jurus Menangkal Rayuan Virus di Chat Facebook

5 Kiat Aman Belanja Online

10 Teknologi Strategis untuk 2011

    Berita Umum
2 Pembalap Bone Juara di Clas Mild Road Race

TNBNW Rusak, Gorontalo Bisa Tenggelam

Asuransi Delay Diberlakukan Januari 2012

Syahrul Jadi Ketua APPSI, Muallim Ketum Forsesdasi

Nanan Soekarna Ketua Umum PP IMI

Abraham Samad pimpin KPK

Peluang Kajian Keterbukaan Informasi Publik

+ Index   
 Copyright ©2010 Script Intermedia - All rights reserved
 Please send any comments to  webmaster@scriptintermedia.com