Untitled Document

 
Script InterMedia
 
HomeProfil Produk & Layanan | Tim Kerja | Portfolio | Kontak | Galeri Foto | Proposal RQC | Demo RQC
Untitled Document
Profil Yuhardin
Y U H A R D I N
CEO Script InterMedia

M: +62853 4292 1117
Pin BB: 3156C99B

Email: ceo@scriptintermedia.com
Fb: Yuhardin Ssi
 
 

    News
Google
 


Jumat, 01-01-2010 
Profil Propinsi Maluku Utara (Malut)
 
Dasar hukum UU RI Nomor 46 Tahun 1999 dan UU RI Nomor 6 Tahun 2003
Tanggal penting 4 Oktober 1999 (hari jadi)
Ibu kota Ternate
Gubernur Thaib Armain
Luas 140.255,32 km˛ (total); 33.278 km˛ (daratan); 106.977,32 km˛ (lautan)
Penduduk 970.443 (2005)
Kepadatan 29
Kabupaten 6
Kota 2
Kecamatan 45
Kelurahan/Desa 730
Suku Suku Module, Suku Pagu, Suku Ternate, Suku Makian Barat, Suku Kao, Suku Tidore, Suku Buli, Suku Patani, Suku Maba, Suku Sawai, Suku Weda, Suku Gne, Suku Makian Timur, Suku Kayoa, Suku Bacan, Suku Sula, Suku Ange, Suku Siboyo, Suku Kadai, Suku Galela, Suku Tobelo, Suku Loloda, Suku Tobaru, Suku Sahu
Agama Islam (76,1%), Protestan (23,1%), Lainnya (0,8%)
Bahasa Bahasa Indonesia
Zona waktu WIT
Tentang Provinsi

Provinsi Maluku Utara terbentuk dengan Undang – undang No. 46 tahun 1999 tanggal 4 Oktober 1999 dan diresmikan pada tanggal 12 Oktober 1999. Provinsi ini merupakan hasil pemekaran dari wilayah Provinsi Maluku. Ibukota Provinsi Maluku Utara yang definitif adalah di Sofifi. Mempertimbangkan berbagai aspek daya dukung prasarana dan sarana pemerintahan yang ada di Sofifi belum memadai untuk menjalankan pemerintahan maka dalam rangka menjalankan roda pemerintahan provinsi , untuk sementara ditempatkan di Kota Ternate dan berjalan sampai dengan saat ini.
Profil Wilayah

Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,36 km2, dengan luas wilayah perairan 106.977,32 km2 (76,27%), dan daratan seluas 33,278 km2 (23,73 %).Terdiri dari 395 buah pulau besar dan kecil. Dari jumlah itu, sebanyak 64 pulau telah di huni, sedangkan 331 pulau lainnya tidak dihuni. Jumlah penduduk tahun 2003 sebanyak 849.724 jiwa, rata-rata laju pertumbuhan sebesar 2,16% per tahun.

Pulau yang tergolong relatif besar adalah Pulau Halmahera (18.000 km2), pulau yang ukurannya relatif sedang yaitu Pulau Obi (3900 km2), Pulau Taliabu(3195 km2), Pulau Bacan (2878 km2), dan Pulau Morotai (2325 km2). Pulau-pulau yang relatif kecil antara lain Pulau Ternate, Tidore, Makian, Kayoa, Gebe dan sebagainya.

Secara administrasi terbagi menjadi 6 wilayah Kabupaten dan 2 wilayah Kota yaitu Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera tengah, Kabupaten Kepulauan Sula, Kota Ternate, Kota Tidore Kepulauan. Terdiri dari 8 (delapan) sub etnis yaitu, ternate, tidore, makian, galela, tobelo, sanana, maba dan bacan yang masing – masing memiliki bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda serta memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Banyaknya sub etnis tersebut merupakan suatu potensi yang kuat dan tangguh dalam menangani pembangunan di Provinsi Maluku Utara.

Propinsi Maluku Utara secara geografis terletak di Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera, Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Maluku, Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Samudera Pasific, Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Seram. Berada pada 3o Lintang Utara hingga 3o Lintang Selatan dan 124o hingga 129o BujurTimur. Wilayah ini dilintasi khatulistiwa, tepatnya di Halmahera Tengah yang memberi efek penting pada pemanasan air laut yang bergerak dari samudera Indonesia ke Pasifik.

Geo posisi Propinsi Maluku Utara dalam perspektif regional maupun internasional berada pada posisi strategis karena terletak di bibir pasific (pasific reem) yang secara langsung berhadapan dengan negara-negara Asia Timur dan negara-negara pasific serta merupakan lintasan antara dua benua Asia dan Australia dan dua samudra Hindia dan Pasifik. Pada era globalisasi area ini merupakan area yang pertumbuhan ekonominya sangat pesat akibat pergeseran pertumbuhan ekonomi dari Kawasan Eropa.
Visi dan Misi

Guna menyamakan persepsi tentang arah arah dan kebijakan pembangunan sehingga terbangun komitmen yang kuat dari pemerintah, sektor swasta dan masyarakat Maluku Utara untuk bersama membangun Maluku Utara 2003-2023, telah memiliki visi yang jelas dan tercantum dalam Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2003.

Visi pembangunan tersebut, perumusannya didasarkan atas berbagai pertimbangan, antara lain, pelaksanaan pembangunan 2003-2023, perhitungan cermat lingkungan strategis dan prediksi tantangan ke depan yang didasarkan atas paradigma-paradigma baru yang berkembang akhir-akhir ini.

Pemerintah daerah telah merumuskan kebijakan pembangunan partisipatif yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, dan tercermin dalam Visi sebagai berikut :

“Terwujudnya Propinsi Maluku Utara Sebagai Propinsi Kepulauan, Dalam Lingkungan Masyarakat Yang Agamis, Berbudaya, Maju, Damai, Mandiri, Adil dan Sejahtera Berbasis Sumber Daya, Tahun 2023”.

Visi tersebut mengandung sentuhan-sentuhan manusiawi, ahlak dan moralitas serta jiwa dan semangat otonomi daerah yang mengedepankan partisipasi dan pemberdayaan.

Sesuai dengan amanat visi tersebut, maka kebijakan pembangunan daerah mengacu pada realitas komunitas, potensi dan daya dukung lingkungan yang bercirikan nilai-nilai sosial budaya, sehingga kebijakan pembangunan tersebut diharapkan mampu membuka ruang bagi partisipasi publik, untuk mewujudkan pembangunan daerah yang berwajah manusiawi. Pembangunan Maluku Utara dengan problematika yang kompleks, tidak mungkin dilakukan hanya oleh pemerintah daerah sendiri, tapi perlu dukungan dan peranserta seluruh stake holders.
POTENSI

1. Potensi Tanaman Pangan

Potensi lahan yang cukup luas terutama untuk beberapa komoditas tanaman pangan seperti padi dengan luas panen tahun 2003 mencapai 16.409 ha dengan produksi mencapai 60.131 ton, jagung dengan luas panen 2.464 ha dengan produksi 3.778 ton, ubi jalar luas panen 3.321 ha dengan luas panen 28.387 ton, ubi kayu luas panen 8.585 ha dengan produksi 103.297 ton, kacang tanah dengan luas panen 1.547 ha dengan luas panen 1.748 ton. Komoditas pertanian lain yang juga banyak diusahakan di wilayah ini adalah, kedele, kacang hijau, tanaman sayur-sayuran seperti kentang, kol/kubis, sawi, tomat, bawang merah, banwang daun, bawang putih dan buah-buahan seperti alpokat, jeruk, belimbing, sukun, durian, jambu, manggis, pepaya pisang, rambutan dan salak.

2. Potensi Perkebunan

Di sektor perkebunan terdapat potensi perkebunan kelapa yang cukup besar, yang ditunjukkan oleh kondisi bahwa sebagian besar penduduk wilayah ini mengusahakan komoditas ini. Tercatat terdapat 10 komoditi perkebunan yang terdapat di Propinsi Maluku Utara yang menopang sub-sektor perkebunan.

Jenis komoditi utama adalah tanaman coklat (kakao), cengkeh dan kelapa. Dari beberapa komoditi ini rata-rata tingkat produktivitas tertinggi berada di Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Barat.

Tercatat terdapat 10 komoditi perkebunan yang terdapat di Propinsi Maluku Utara yang menopang sub-sektor perkebunan. Jenis komoditi utama adalah tanaman coklat (kakao), cengkeh dan kelapa. Dari beberapa komoditi ini rata-rata tingkat produktivitas tertinggi berada di Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Barat.

3. Potensi Sektor Kehutanan

Kawasan hutan di Maluku Utara tahun 2003 seluas 3.184.910 Ha, yang terdiri dari hutan lindung 702.539 ha, hutan produksi terbatas 572.845 ha, hutan produksi 552.227 ha, hutan PPA 48.836 ha dan hutan konversi 1.308.463 ha. Dari potensi kayu tersebut dimanfaatkan dalam bentuk ekspor produksi kayu lapis 28.371 ton dengan nilai ekspor 11.476.000 US Dollar dan kayu gergaji 329.000 ton dengan nilai ekspor 62.000.000 US Dollar (data Januari-September 2003).

Luas areal perkebunan kelapa adalah 162.393 ha dengan produksi tahun 2003 sebesar 121.831 ton kelapa. Komoditas lain yang juga cukup potensial dan banyak diusahakan adalah cengkih dengan luas areal mencapai 10.882 ha dan produksi tahun 2003 mencapai 6.528 ton; pala juga banyak diusahakan di beberapa lokasi dengan total keseluruhan areal perkebunan seluas 9.833 ha dan produksi tahun 2003 mencapai 5.899 ton; kakao dengan luas areal mencapai 26.686 ha dan produksi 19.998 ton; pala dengan luas areal 9.833 ha dengan produksi mencapai 5.899 ton; kopi dengan luas areal 4.025 ha dengan produksi mencapai 2.414 ton.

4. Potensi Peternakan

Jenis ternak yang mempunyai akses pengembangan agribisnis adalah; sapi potong dan unggas (ayam buras, ras pedaging, ras petelur dan itik). Secara umum wilayah Maluku Utara memiliki kesesuaian dimana lahan pengembangan peternakan meliputi lahan kosong, padang pengembalaan, kebun kelapa dan lahan pekarangan. Wilayah Maluku Utara merupakan suatu hamparan yang bisa dijadikan sebagai kawasan untuk pengembangan peternakan yang terkonsentrasi.

5. Potensi Kelautan dan Perikanan

Dengan melihat karakteristik wilayah Provinsi Maluku Utara, terdiri dari 76,28% merupakan perairan, maka dapat dikatakan bahwa, pengembangan potensi unggulan daerah dibeberapa sektor, khususnya subsektor perikanan dan kelautan mempunyai prospek yang sangat menjanjikan. Potensi yang tersedia pada subsektor perikanan dan kelautan (standing stock) sebesar 694.382,48 ton per tahun dengan potensi lestari sebesar 347.191,24 ton per tahun, dan baru dimanfaatkan sebesar 26,51% atau sekitar 92.052,21 ton per tahun.

Jenis ikan yang tersebar di perairan Maluku Utara adalah ikan pelagis besar (tuna, cakalang, tongkol, Kakap dan tenggiri) potensi per tahun sebesar 211.590,00 ton, ikan pelagis kecil (teri, kembung, layang, selar dan julung) dengan potensi per tahun sebesar 169.834,33 ton, jenis ikan demersal (kakap merah, lencan, ekor kuning, baronang) sebesar 135.005,24 ton per tahun, ikan karang dengan potensi per tahun sebesar 97.801,78 ton, Lobster dengan potensi per tahun sebesar 11.999,74 ton, Cumi-cumi potensi pertahun sebesar 35.072,18 ton, Udang Penied potensi per tahun sebesar 26.545,26 ton.

Selain itu produksi perikanan tangkap untuk jenis ikan pelagis besar 25.488,36 ton per tahun, pelagis kecil sebesar 40.159,66 ton per tahun, demersal sebesar 14.997,10 ton per tahun, ikan karang sebesar 9.872,48 ton per tahun, Lobster sebesar 2.973,97 ton per tahun, Cumi-cumi sebesar 4.987,98 ton per tahun, dan Udang Penied 2.002,10 ton per tahun.

Sedangkan perikanan budidaya dengan jenis komoditi ikan kerapu dengan luas lahan sebesar 24,75 Ha, Rumput laut dengan luas lahan 74,25 Ha, Ikan Nila dan Ikan Mas dengan luas lahan 22,67 Ha, dan Udang Windu dengan luas lahan 20,10 Ha, produksi yang dicapai pada tahun 2004 untuk jenis ikan kerapu sebesar 38.484 ton per tahun, rumput laut sebesar 16.387 ton per tahun, Ikan Nila dan Ikan Mas sebesar 19.682 ton per tahun, dan Udang Windu sebesar 3.556 ton per tahun.

6. Potensi Pertambangan

Potensi bahan galian logam dan non-logam seperti nikel-kobal, tembaga, emas dan perak merupakan komoditi unggulan untuk dikembangkan lebih lanjut. Pulau Halmahera mempunyai potensi endapan bahan galian emas yang cukup prospektif, temuan endapan emas epitermal di daerah Gosowong dengan potensi yang terkandung dalam busur magnetik. Untuk bahan galian nikel, perencanaan penyediaan biji nikel untuk konsumsi pabrik Feni tahun 2000 - 2030 dibutuhkan sebanyak 48.750.000 ton. Sedangkan yang baru tersedia sampai dengan saat ini hanya sebanyak 16.355.000 ton, sehingga terdapat kekurangan biji nikel sebanyak 32.395.000 ton. Sumber endapan nikel laterit di daerah teluk Weda yang sampai saat ini belum dilakukan eksploitasi secara terinci yang berkisar 92.000.000 ton.

Indikasi adanya hidro karbon ditunjukan oleh gejala rembesan minyak seperti yang ditemukan di Pulau Halmahera yang dilakukan oleh Pertamina dan British Petroleum di Cekungan Halmahera Selatan dengan rembesan flour pada kedalaman 3000 meter, selain itu terdapat potensi panas bumi di Jailolo, energi panas bumi di Songa Bacan.

Dari berbagai potensi yang dimiliki tersebut, sehingga Propinsi Maluku Utara disebut sebagai laboratorium alam geologi dikarenakan kedudukannya berada pada tumbukan tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Australia yang bergerak ke arah selatan, lempeng Eurasia yang bergerak dari arah barat dan Lempeng Pasifik dari arah barat. Beberapa sumber daya mineral atau bahan galian tambang yang ditemukan tersebar hampir di seluruh daerah Maluku Utara, seperti; Tembaga, Uranium, Emas, Nikel, Batu Bara, Alumanium/Bauksit, Magnesit, Pasir Besi, Titanium, Mangan, Asbes, Kaolin, Diatomit, Batu Permata, Kromit, Pasir Kuarsa, Batu Gamping, Batu Apung, Granit, Talk, Migas, Potensi Panas Bumi, dan Sumber Daya Air.

Demikian pula untuk kegiatan usaha pertambangan yang didukung ketersediaan potensi tambang, utamanya eksploitasi Emas dan Nikel. Sementara masih tersedia potensi bahan galian yang belum diolah sebanyak 18 belas jenis bahan galian yang termasuk golongan A, B dan C. Tingkat produksi dalam tahun yang sama mencapai nilai ekspor 11.670.000 US Dollar.

Di sektor pertambangan didukung oleh ketersediaan potensi tambang, utamanya eksploitasi Emas dan Nikel serta 18 belas jenis bahan galian yang termasuk golongan A, B dan C yang belum diolah. Pulau Halmahera mempunyai potensi endapan bahan galian emas yang cukup prospektif, temuan endapan emas epitermal di daerah Gosowong dengan potensi yang terkandung dalam busur magnetik. Sumber endapan nikel laterit di daerah teluk Weda yang sampai saat ini belum dilakukan eksploitasi secara terinci yang berkisar 92.000.000 ton. Indikasi adanya hidro karbon di Propinsi Maluku Utara ditunjukan oleh gejala rembesan minyak seperti yang ditemukan di Pulau Halmahera yang dilakukan oleh Pertamina dan British Petroleum di Cekungan Halmahera Selatan dengan rembesan flour pada kedalaman 3000 meter,selain itu terdapat potensi panas bumi di Jailolo, energi panas bumi di Songa Bacan.

Dari berbagai potensi yang dimiliki tersebut, sehingga Propinsi Maluku Utara disebut sebagai laboratorium alam geologi dikarenakan kedudukannya berada pada tumbukan tiga lempeng tektonik, yaitu lempeng Australia yang bergerak ke arah selatan, lempeng Eurasia yang bergerak dari arah barat dan Lempeng Pasifik dari arah barat. Beberapa sumber daya mineral atau bahan galian tambang yang ditemukan tersebar hampir di seluruh daerah Maluku Utara, seperti; Tembaga, Uranium, Emas, Nikel, Batu Bara, Alumanium/Bauksit, Magnesit, Pasir Besi, Titanium, Mangan, Asbes, Kaolin, Diatomit, Batu Permata, Kromit, Pasir Kuarsa, Batu Gamping, Batu Apung, Granit, Talk, Migas, Potensi Panas Bumi, dan Sumber Daya Air.
* Emas : 78.200.000 ton Au=2-30 gram/ton yang terdapat di 16 lokasi dan tersebar di Bacan, Galela, Loloda, Kao, Obi, Sanana, Taliabu Barat, Kayoa, Morotai Selatan dan Morotai Utara.
*Mangan : di Kecamatan Galela dan Kecamatan Loloda Utara, dan baru eksploitasi sebesar 221.553 ton.
*Tembaga dengan jumlah kandungan sebesar 70.000.000 ton tersebar di Bacan, Obi, Loloda,
*Besi dengan jumlah kandungan sebesar 87.700.000 ton (20% Fe),
* Pasir Besi dengan jumlah kandungan sebesar 10.000.000 ton (terkira),
* Batu Bara terdapat di 10 lokasi dan tersebar di Bacan, Jailolo, Galela, Kao, Makian/Malifut, Morotai Selatan, Obi, Sanana, Taliabu Barat dan Loloda. Nikel dengan luas areal 47.898 Ha, terdapat di Obi dan Taliabu.

7. Potensi Pariwisata

Potensi pariwisata di daerah ini berupa wisata budaya dan purbakala, sejarah, adat istiadat yang dikenal dengan Kesultanan Moloku Kie Raha. Peninggalan-peninggalan sejarah masa silam antara lain Kadaton Sultan Ternate dan Kadaton Sultan Tidore.

Potensi wisata bahari berupa pulau-pulau dan pantai yang indah dengan taman laut serta jenis ikan hias, merupakan potensi utama dalam rangka mengembangkan wisata bahari. Wisata alam seperti batu lubang yang tersebar hampir diseluruh wilayah, hutan Wisata yang dapat diperuntukan bagi kepentingan taman nasional yang memiliki spesies endemik ranking ke 10 di dunia. Dengan potensi seperti itu, maka pengembangannya diarahkan pada lokasi-lokasi yang memiliki interaksi kegiatan wisata.

Kawasan suaka alam yang terdiri dari beberapa jenis, baik di daratan maupun wilayah perairan laut yang tersebar pada berbagai lokasi seperti; Cagar Alam Gunung Sibela di Pulau Bacan, Cagar Alam di Pulau Obi, Cagar Alam Taliabu di Pulau Taliabu, Cagar Alam Pulau Seho.

Kawasan Cagar Budaya yang memiliki nilai sejarah kepurbakalan tersebar di wilayah Propinsi Maluku Utara meliputi Cagar Budaya di Kota Ternate, Kota Tidore, Kabupaten Halmahera Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Selatan, dan Kabupaten Halmahera Utara.
FASILITAS UMUM

1. PERHUBUNGAN

a. Prasarana Jalan

Transportasi Jalan di Provinsi Maluku Utara dikembangkan untuk melayani daerah-daerah yang merupakan pusat kegiatan lokal maupun pusat kegiatan wilayah. Total panjang jalan tahun 2004 sesuai klasifikasinya terdiri dari jalan nasional sepanjang 458,21 Km jalan provinsi sepanjang 1.816,67 Km dan jalan Kabupaten/Kota sepanjang 3.279,742 Km. Dari keseluruhan panjang jalan provinsi, 347,36 Km mengalami rusak berat, rusak sedang dan ringan masing-masing sepanjang 155,82 Km dan 65,19 Km.

Moda angkutan darat yang beroperasi dapat melayani kebutuhan pengangkutan barang dan orang baik inter maupun antar pulau terdiri dari bus sebanyak 13 unit, penumpang umum 1.547 unit, truck 360 unit dan angkutan penyeberangan sebanyak 3 unit.

Jumlah terminal yang ada di Provinsi Maluku Utara sebanyak 12 buah tersebar di Pulau Ternate sebanyak 3 buahl yaitu Terminal Gamalama, Bastiong dan Dufa-Dufa sedangkan untuk kawasan Pulau Halmahera yaitu terminal Sidangoli, Jailolo, Malifut, Tobelo, dan Galela dan terminal lainnya yakni terminal Daruba di Morotai, terminal Labuha di Bacan dan Terminal Goto di Tidore.

Dalam rangka pengembangan kawasan Pulau Halmahera maka jaringan jalan yang menjadi prioritas untuk dibangun di Pulau Halmahera adalah jaringan jalan trans Halmahera yang menghubungkan kota Sidangoli-Dodinga – Nusajaya – Subaim – Buli – Maba – Wasile – Sagea – Kobe -Weda - Payahe – Weda – Mafa – Matuting – Saketa, Akelamo – Sofifi - Dodinga.

Rencana yang terkait dengan pengembangan jaringan jalan di Provinsi Maluku Utara meliputi pengembangan/perbaikan/peningkatan jaringan jalan Provinsi dan jalan Kabupaten yang bertujuan untuk mempermudah hubungan antara kota dan Kecamatan serta antar desa maupun untuk menunjang terbentunya sentra-sentra produksi.

b. Prasarana Perhubungan Udara

Sarana transportasi udara ini untuk mendukung sarana transportasi darat dan laut. Di Propinsi Maluku Utara saat ini terdapat 10 buah pelabuhan udara yang terdiri dari kelas III, 1 buah, kelas IV, 2 buah, kelas V, 3 buah dan kelas Perintis 5 buah.

Selain itu lapangan terbang bekas perang dunia kedua dengan panjang run way 2.000 M yang terdapat di Lolobata Kecamatan Wasile Kabupaten Halmahera Timur. Sedangkan transportasi udara regular dilayani oleh Bandara Udara Babullah Ternate dengan rute Ternate-Manado, Ternate-Gorontalo-Makassar-Surabaya-Jakarta yang dilayani oleh PT. Merpati Nusantara Air Lines, PT. Bouraq Air Lines, PT. Lion Air, PT. Pelita Air Service.

Bandar Udara Babullah merupakan pintu gerbang dari dan ke Provinsi Maluku Utara, dna telah didarati Pesawat type Boing 737 seri 200. Dengan adanya bandara ini, kelancaran roda pemerintahan, mobilitas pelaku ekonomi dan masyarakat dapat terselenggara sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Hal ini dapat dilihat pada frekwensi penerbangan dari dan ke Bandar Babullah yang dari waktu ke waktu menunjukkan peningkatan dengan frekwensi penerbangan tertinggi ke Manado dan Makassar yaitu rata-rata 20 kali per minggu, disusul Ambon dengan 6 kali perminggu dan Sorong 2 kali perminggu.

c. Sistem Transportasi Laut.

Sarana transportasi laut yang melayani kepulauan Maluku Utara terdiri dari kapal PELNI, kapal Nusantara, Perintis dan kapal pelayanran rakyat(Pelra), yang dikelola oleh pemerintah, perusahaan swasta, maupun perorangan. Pelayaran reguler oleh kapal-kapal PELNI yang dilayani oleh pelabuhan A.Yani Ternate.

2. LISTRIK

Kebutuhan akan energi listrik di Provinsi Maluku Utara sampai tahun 2004 bertumpu pada sumber PLTD yang mempunyai kapasitas 55.772 KW. Sementara itu kebutuhan listrik pada beban puncak adalah 18.989 KW. Dengan melihat pada penyediaan dan kebutuhan beban puncak tersebut, maka suplai energi listrik di Maluku Utara masih belum memadai dan sangat tergantung pada baik buruknya kondisi mesin diesel.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya pemadaman listrik akibat over produksi pada PLTD, maka sedang direncanakan penyiapan pembangkit listrik alternatif.

Untuk listrik pedesaan, pada tahun 2004 dari 720 desa di Maluku Utara yang telah memperoleh listrik 449 desa (62,36%) dengan jumlah pelanggan sebanyak 51.756 pelanggan. Kendala dalam pengembangan listrik di daerah pedesaan adalah karena faktor kondisi geografi, kurangnya pendanaan pemerintah dan tingkat beban yang secara teknis dan ekonomis belum layak dipasok pembangkit skala besar.

Dalam rangka pengembangan pusat-pusat produksi pertanian maka perlu didukung oleh sarana irigasi yang memadai, akan tetapi dari 39 daerah irigasi di Provinsi Maluku Utara dengan luas lahan 35.886,34 Ha baru 7.290,10 Ha yang dilengkapi dengan sarana irigasi dan masih tersisa 27.596,24 Ha.

3. AIR BERSIH

Pembangunan Prasarana dan sarana air bersih di Propinsi Maluku Utara sampai saat ini belum menyentuh masyarakat pedesaan, selain itu tingkat pelayanan air bersih masih mencakup kawasan perkotaan dan sebagian ibu kota kecamatan dan perdesaan dengan skala kecil. Pada umumnya, masyarakat perdesaan mendapatkan air dari sarana tradisional, seperti sumur, mata air, sungai dan sebagainya.

Departemen Pekerjaan Umum. Sebagai pengelolanya dibentuk Badan Pengelola Air Minum (BPAM) yang bersama-sama dengan pemerintah daerah dikembangkan menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sedangkan pembangunan prasarana dan sarana air minum di perdesaan dilaksanakan oleh Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM-PL), Departemen Kesehatan dibantu oleh Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa (PMD), Departemen Dalam Negeri. Pola perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan ditentukan oleh pemerintah pusat melalui departemen teknis yang menangani.

Penggunaan air leding (PDAM) untuk kebutuhan rumah tangga baru mencapai 21,44%. Jumlah pelanggan distribusi PDAM Kota Ternate memperoleh air minum melalui mata air dan air permukaan danau laguna kondisi tahun 2001 mencapai 11.085 pelanggan.

Di Kota Tidore Kepulauan terdapat 4 buah sumur dan 1 buah reservoir sebagai sarana air bersih yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum (PDAM) yang dapat melayani 35.000 jiwa. Selain itu sumur galian sumber air bersih yang tersebar di kelurahan yang memiliki debet air yang tetap sepanjang tahun. Di Payahe Kecamatan Oba Selatan terdapat sumber air Bastiong, kali Sigela berjarak 5 Km dari Payahe airnya dapat melayani 7.000-8.000 jiwa.

Di Weda Kabupaten Halmahera Tengah terdapat 2 buah sumur dangkal yang dapat melayani 7.000 jiwa, Di Maba Kabupaten Halmahera Timur sumber air kali Buli dapat melayani 2.000.000 jiwa, di Wasile 1 buah sumur dangkal sebagai sumber air bersih dapat melayani 5.000 jiwa.

Selain sumber air bersih yang dikelola PDAM, juga program air bersih yang oleh Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah melalui program subsidi BBM, yang dilaksanakan sejak tahun 2001 dengan sasaran masyarakat miskin di daerah kumuh perkotaan dan perdesaan yang belum terlayani PDAM, wilayah rawan air bersih, membeli air dengan harga mahal, mengambil air pada lokasi yang jauh, daerah yang mengalami kekeringan yang berkepanjangan, Adapun tujuannya untuk memenuhi kebutuhan air bersih dengan harga yang lebih murah.

Dari program subsidi BBM tersebut telah dibangun sistem untuk Kota Ternate pada 9 kelurahan dengan modul hidran umum yang dimanfaatkan oleh 8.820 jiwa, Kota Tidore Kepulauan 11 kelurahan modul tangki air yang melayani 9.825 jiwa, Kabupaten Halmahera Selatan di 5 desa dengan modul SIPAS yang melayani 5.250 jiwa.

4. TELEPON

Sampai dengan tahun 2003 PT. Telkom telah memiliki 1 unit sentra telepon dengan kapaitas sentral 7560. Jumlah pelanggan sebanyak 13.750 pelanggan. Selain sambungan telepon langsung sarana telekomunikasi lain yang ada antara lain wartel. Penggunaan pulsa tahun 2003 sebanyak 96.152.112 pulsa untuk SLJJ dan 31.486.363 pulsa/tahun untuk interlokal, dan jumlah pengiriman telegram sebanyak 3.131.

Perkembangan jeringan prasarana telekomunikasi di Propinsi Maluku Utara sebagai berikut : Di Kabupaten Halmahera Utara (Daruba dan Tobelo) terdapat jeringan telekomunikasi dengan kapasitas sentral 1.220 SST, kapasitas jeringan 1.504 SST dan jumlah pelanggan 777 , di Kabupaten Kepulauan Sula ( Taliabu Timur dan Sanana), kapasitas sentral 1.442 SST, kapasitas jeringan 1.260 SST dangan jumlah pelanggan 1.089, di Kabupaten Halmahera Selatan terdapat kapasitas sentral 1.220 SST, kapasitas jeringan 774 SST dan jumlah pelanggan 449, dan Kabupaten Halmahera Barat (Jailolo) dengan kapasitas sentral 392 SST, kapasitas jeringan 440 SST dan jumlah pelanggan 231.

Kondisi Geografis

Luas total wilayah Provinsi Maluku Utara mencapai 140.255,32 km˛. Sebagian besar merupakan wilayah perairan laut, yaitu seluas 106.977,32 km˛ (76,27%). Sisanya seluas 33.278 km˛ (23,73%) adalah daratan.
[sunting] Pulau-Pulau

Provinsi Maluku Utara terdiri dari 395 pulau besar dan kecil. Pulau yang dihuni sebanyak 64 buah, yang tidak dihuni sebanyak 331 buah.

* Pulau Halmahera (18.000 km˛)
* Pulau Cibi (3.900 km˛)
* Pulau Talabu (3.195 km˛)
* Pulau Bacan (2.878 km˛)
* Pulau Morotai (2.325 km˛)
* Pulau Ternate
* Pulau Makian
* Pulau Kayoa
* Pulau Gebe

[sunting] Sejarah
[sunting] Sebelum Penjajahan

Daerah ini pada mulanya adalah bekas wilayah empat kerajaan Islam terbesar di bagian timur Nusantara yang dikenal dengan sebutan Kesultanan Moloku Kie Raha (Kesultanan Empat Gunung di Maluku), yaitu:

* Kesultanan Bacan
* Kesultanan Jailolo
* Kesultanan Tidore
* Kesultanan Ternate.

[sunting] Pendudukan Militer Jepang

Pada era ini, Ternate menjadi pusat kedudukan penguasa Jepang untuk wilayah Pasifik.
[sunting] Zaman Kemerdekaan
[sunting] Orde Lama

Pada era ini, posisi dan peran Maluku Utara terus mengalami kemorosotan, kedudukannya sebagai karesidenan sempat dinikmati Ternate antara tahun 1945-1957. Setelah itu kedudukannya dibagi ke dalam beberapa Daerah Tingkat II (kabupaten).

Upaya merintis pembentukan Provinsi Maluku Utara telah dimulai sejak 19 September 1957. Ketika itu DPRD peralihan mengeluarkan keputusan untuk membentuk Provinsi Maluku Utara untuk mendukung perjuangan untuk mengembalikan Irian Barat melalui Undang-undang Nomor 15 Tahun 1956, namun upaya ini terhenti setelah munculnya peristiwa pemberontakan Permesta.

Pada tahun 1963, sejumlah tokoh partai politik seperti Partindo, PSII, NU, Partai Katolik dan Parkindo melanjutkan upaya yang pernah dilakukan dengan mendesak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah-Gotong Royong (DPRD-GR) untuk memperjuangkan pembentukan Provinsi Maluku Utara. DPRD-GR merespons upaya ini dengan mengeluarkan resolusi Nomor 4/DPRD-GR/1964 yang intinya memberikan dukungan atas upaya pembentukan Provinsi Maluku Utara. Namun pergantian pemerintahan dari orde lama ke orde baru mengakibatkan upaya-upaya rintisan yang telah dilakukan tersebut tidak mendapat tindak lanjut yang kongkrit.
[sunting] Orde Baru

Pada masa Orde Baru, daerah Moloku Kie Raha ini terbagi menjadi dua kabupaten dan satu kota administratif. Kabupaten Maluku Utara beribukota di Ternate, Kabupaten Halmahera Tengah beribukota di Soa Sio, Tidore, dan Kota Administratif Ternate beribukota di Kota Ternate. Ketiga daerah kabupaten/kota ini masih termasuk wilayah Provinsi Maluku.
[sunting] Orde Reformasi

Pada masa pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, muncul pemikiran untuk melakukan percepatan pembangunan di beberapa wilayah potensial dengan membentuk provinsi-provinsi baru. Provinsi Maluku termasuk salah satu wilayah potensial yang perlu dilakukan percepatan pembangunan melalui pemekaran wilayah provinsi, terutama karena laju pembangunan antara wilayah utara dan selatan dan atau antara wilayah tengah dan tenggara yang tidak serasi.

Atas dasar itu, pemerintah membentuk Provinsi Maluku Utara (dengan ibukota sementara di Ternate) yang dikukuhkan dengan Undang-Undang Nomor 46 tahun 1999 tentang Pemekaran Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negera Nomor 3895).

Dengan demikian Provinsi ini secara resmi berdiri pada tanggal 12 Oktober 1999 sebagai pemekaran dari Provinsi Maluku dengan wilayah administrasi terdiri atas Kabupaten Maluku Utara, Kota Ternate, dan Kabupaten Maluku Utara.

Selanjutnya dibentuk lagi beberapa daerah otonom baru melalui Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Halmahera Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Kabupaten Halmahera Selatan, Kabupaten Sula Kepulauan, dan Kota Tidore.
[sunting] Kabupaten dan Kota
No. Kabupaten/Kota Ibu kota
1 Kabupaten Halmahera Barat Jailolo
2 Kabupaten Halmahera Tengah Weda
3 Kabupaten Halmahera Utara Tobelo
4 Kabupaten Halmahera Selatan Labuha
5 Kabupaten Kepulauan Sula Sanana
6 Kabupaten Halmahera Timur Maba
7 Kabupaten Pulau Morotai Morotai Selatan
8 Kota Ternate -
9 Kota Tidore Kepulauan -



Gubernur
No. Foto Nama Sejak Hingga Keterangan
1. Saleh latconsina.jpg Saleh Latuconsina
(Penjabat Gubernur) ? 18 April 2002
2. SH Sarundajang.jpg Sinyo Harry Sarundajang
(Penjabat Gubernur) 18 April 2002 25 November 2002 Dilantik oleh Mendagri Hari Sabarno
3. Thaib Armain 25 November 2002 25 November 2007 Dilantik oleh Mendagri Hari Sabarno.
4. Sekretaris Provinsi Maluku Utara 25 November 2002 ? Dilantik oleh Mendagri Hari Sabarno.
5. Thaib Armaiyn





(Sumber: http://www.malutprov.go.id & Wikipedia)
 

Komentar:




Home : scriptintermedia.com
 
Berita Lain
Pilkada Sulsel Jadi Ajang Pemanasan Pilpres 2014

Pasangan Calon Perlu Konsultan Hukum

Nomor Urut pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Jepara 2012

2012, Tahun Pilgub Sulsel

Pemilukada Serentak Bisa Jadi Bumerang

2012, Jateng akan Gelar Pilkada di Lima Daerah

Biografi/Profil Muhammad Nazar


Untitled Document
 



    Portfolio Real Quick Count Pilkada

- Pilgub Sulteng (Sulawesi Tengah)
- Pilgub Banten
- Pilgub Sulbar (Sulawesi Barat)
- Pemilukada Kota Jogja
- Pemilukada Kab. Buru, Maluku
- Pemilukada Torut Put. 2
- Pemilukada Malinau, Kaltim
- Pemilukada Kubar, Kaltim
- Pemilukada Rokan Hulu, Riau
- Pemilukada Nunukan, Kaltim
- Pemilukada Sragen, Jateng
- Pemilukada Kaur, Bengkulu
- Pemilukada Sarolangun, Jambi

Selanjutnya...



Untitled Document
 

 

    Artikel IT
Inilah Cara Internet Selamatkan Jepang

Pentingnya Teknologi Informasi untuk kesinambungan bisnis

Laporan Malware 2010: 10 Ancaman Teratas Setahun Terakhir

Inilah Inovator Muda Finalis IWIC 2010

PIN BlackBerry Jadi Alat Jejaring Sosial

Pendiri Facebook Menjadi Tokoh Tahun Ini

Ancaman Baru di Era Twitter dan Facebook

    IT News
Plus Minus Windows 8

Daftar 17 Teknologi Akan Memudar di 2012

Sulap Akun Fb jadi Sarana Promosi Diri

10 Kisah Terbesar Dunia Teknologi di 2011

5 Jurus Menangkal Rayuan Virus di Chat Facebook

5 Kiat Aman Belanja Online

10 Teknologi Strategis untuk 2011

    Berita Umum
2 Pembalap Bone Juara di Clas Mild Road Race

TNBNW Rusak, Gorontalo Bisa Tenggelam

Asuransi Delay Diberlakukan Januari 2012

Syahrul Jadi Ketua APPSI, Muallim Ketum Forsesdasi

Nanan Soekarna Ketua Umum PP IMI

Abraham Samad pimpin KPK

Peluang Kajian Keterbukaan Informasi Publik

+ Index   
 Copyright ©2010 Script Intermedia - All rights reserved
 Please send any comments to  webmaster@scriptintermedia.com