Untitled Document

 
Script InterMedia
 
HomeProfil Produk & Layanan | Tim Kerja | Portfolio | Kontak | Galeri Foto | Proposal RQC | Demo RQC
Untitled Document
Profil Yuhardin
Y U H A R D I N
CEO Script InterMedia

M: +62853 4292 1117
Pin BB: 3156C99B

Email: ceo@scriptintermedia.com
Fb: Yuhardin Ssi
 
 

    News
Google
 


Jumat, 01-01-2010 
Profil Propinsi Sulawesi Tengah (SULTENG)
 
Sejarah Singkat

Propinsi terbesar di pulau Sulawesi adalah Sulawesi Tengah dengan luas wilayah daratan 68,033 kilometer persegi dan wilayah laut 189,480 kilometer persegi, terletak di bagian barat kepulauan Maluku dan bagian selatan negara Filipina. Secara administratif terbagi dalam sembilan kabupaten dan satu kota, yakni Kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Poso, Morowali, Tojo Unauna, Banggai, Banggai Kepulauan, Tolitoli dan Buol serta Kota Palu.

Jumlah penduduk Sulawesi Tengah 2.128.000 jiwa sesuai sensus penduduk tahun 2000.

Karena letaknya yang strategis, pelabuhan - pelabuhannya menjadi tempat persinggahan kapal-kapal Portugis dan Spanyol lebih dari 500 tahun yang lampau. Pada bulan Januari 1580, pengeliling dunia Sir Francis Drake dengan kapalnya The Golden Hind pernah singgah di salah satu pulau kecil di pantai timur propinsi ini selama sebulan. Meskipun tidak ada catatan sejarah, bukti persinggahan pelaut-pelaut Portugal dan Spanyol di negeri ini masih ada seperti pada bentuk pakaian masyarakat hingga dewasa ini.

Wilayah Propinsi Sulawesi Tengah, sebelum jatuh ke tangan Pemerintah Hindia Belanda merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 Kerajaan dibawah kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam Sejarah Sulawesi Tengah dikenal dengan julukan Tujuh Kerajaan di timur dan Delapan kerajaan di barat.

Semenjak tahun 1905, wilayah Sulawesi Tengah seluruhnya jatuh ke tangan Pemerintah Hindia Belanda, dari tujuh kerajaan di timur dan delapan kerajaan di barat, kemudian oleh Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Landscape-Landscape atau pusat-pusat Pemerintah Hindia Belanda yang meliputi antara lain;

1. Poso Lage di Poso
2. Lore di Wanga
3. Tojo di Ampana
4. Pulau Una - Una di Una-Una
5. Bungku di Bungku
6. Mori di Kolonodale
7. Banggai di Luwuk
8. Parigi di Parigi
9. Moutong di Tinombo
10. Tawaeli di Tawaeli
11. Banawa di Donggala
12. Palu di Palu
13. Sigi / Dolo di Biromaru
14. Kulawi di Kulawi
15. Toli-Toli di Toli-Toli.

Dalam perkembangannya, ketika Pemerintah Hindia Belanda jatuh dan sudah tidak berkuasa lagi di Sulawesi Tengah serta seluruh Indonesia, oleh Pemerintah Pusat membagi wilayah Sulawesi Tengah menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:

1.
Sulawesi Tengah bagian Barat, meliputi wilayah Poso, Kabupaten Banggai dan Kabupaten Buol Toli - Toli. Pembagian wilayah ini didasarkan pada Undang-Undang Nomor 29 tahun 1959 tentang pembentukan Daerah - Daerah Tingkat II di Sulawesi.
2.
Sulawesi Tengah bagian Tengah (Teluk Tomini), masuk wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1919 seluruh wilayah Sulawesi Tengah masuk wilayah Karesidenan Sulawesi Utara di Manado. Pada tahun 1940 Sulawesi Tengah di bagi menjadi 2 Afdeeling yaitu Afdeeling Donggala yang meliputi tujuh Order Afdeeling dan lima belas Swapraja.
3.
Sulawesi Tengah bagian Timur (Teluk Tolo) masuk wilayah Karesidenan Sulawesi Timur di Bau-Bau.

Tahun 1964 dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1964 terbentuklah Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang meliputi empat kabupaten yaitu;

1. Kabupaten Dongala,
2. Kabupaten Poso,
3. Kabupaten Banggai dan
4. Kabupaten Buol Toli-Toli.

Selanjutnya Pemerintah Pusat menetapkan Propinsi Sulawesi Tengah sebagai Propinsi yang otonom berdiri sendiri yang di tetapkan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 Tanggal 13 April 1964 tentang Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan selanjutnya tanggal pembentukan tersebut diperingati sebagai Hari Lahirnya Propinsi Sulawesi Tengah.

Dengan perkembangan sistem Pemerintah dan tuntutan Masyarakat dalam era reformasi yang menginginkan adanya pemekaran Wilayahnya menjadi kabupaten, maka Pemerintah Pusat mengeluarkan kebijakan melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2000 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 51 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Buol, Morowali dan Banggai Kepulauan. Kemudian melalui Undang-Undang nomor 10 tahun 2002 oleh Pemerintah Pusat terbentuk lagi kabupaten baru di Propinsi Sulawesi Tengah yakni Kabupaten Parigi Moutong. Pada awal tahun 2004 juga terbentuk lagi kabupaten baru pemekaran dari Kabupaten Poso yaitu Kabupaten Tojo Unauna. Dengan demikian hingga saat ini berdasarkan pemekaran wilayah kabupaten di Propinsi Sulawesi Tengah, menjadi sepuluh daerah, yaitu;

1. Kabupaten Donggala berkedudukan di Donggala
2. Kabupaten Poso berkedudukan di Poso
3. Kabupaten Banggai berkedudukan di Luwuk
4. Kabupaten Toli-Toli berkedudukan di Toli-Toli
5. Kota Palu berkedudukan di Palu
6. Kabupaten Buol berkedudukan di Buol
7. Kabupaten Morowali berkedudukan di Kolonodale
8. Kabupaten Banggai Kepulauan berkedudukan di Banggai
9. Kabupaten Parigi Moutong berkedudukan di Parigi.
10. Kabupaten Tojo Una-Una

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490


Nama-Nama Gubernur
No. Foto Nama Dari Sampai Keterangan
1. Anwar Gelar Datuk Madjo Basa Nan Kuning
13 April 1964
13 April 1968

2. Kol. Mohammad Yasin
13 April 1968
April 1973

3. Brigjen Albertus Maruli Tambunan
April 1973 28 September 1978

4. Brigjen Moenafri, SH
28 September 1978
22 Oktober 1979

5. Kol. R. H. Eddy Djadjang Djajaatmadja
22 Oktober 1979
22 Oktober 1980

6. Mayjen H. Eddy Sabara
November 1980 Februari 1981
Pejabat Gubernur
7. Drs. H. Ghalib Lasahido
19 Desember 1981
Februari 1986

8. Abdul Aziz Lamadjido, SH
Februari 1986 16 Februari 1996

9. Mayjen TNI (Purn). H. Bandjela Paliudju
16 Februari 1996
20 Februari 2001
periode pertama
10. Prof. (Em) Drs. H. Aminuddin Ponulele, M.S.
20 Februari 2001 2006
11. Gumyadi
2006 24 Maret 2006 Penjabat Gubernur
12. Mayjen TNI (Purn). H. Bandjela Paliudju 24 Maret 2006
sekarang periode kedua





Letak Geografi

Propinsi Sulawesi Tengah terletak diantara 2 22 Lintang Utara dan 4 48 Lintang Selatan serta 119 22 dan 124 22 Bujur Timur.


Batas-Batas Wilayah

1. Batas Utara
: Propinsi Gorontalo

2. Batas Timur
: Propinsi Maluku

3. Batas Selatan
: Prop. Sulawesi Selatan dan Prop. Sulawesi Tenggara

4. Batas Barat
: Selat Makassar

Propinsi Sulawesi Tangah yang dibentuk dengan Undang-Undang nomor 13 tahun 1964 terdiri dari wilayah daratan 68.033,00 Km2 dan wilayah lautan 189.408,00 Km2. Secara administratif Sulawesi Tengah dibagi dalam 9 (sembilan) kabupaten, 1 (satu) kota madya dengan 85 kecamatan serta 1300 desa dan 132 kelurahan 91.432 desa/kelurahan.

Topografi wilayah daratan diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Lahan Pertanian
:
673.759 Ha (10,56%)

2. Hutan Lindung
:
1.764.720 Ha (21,71%)

3. Hutan Suaka Wisata
:
604.780 Ha (9,49 %)

4. Hutan Suaka Tetap
:
422.809 Ha (33,64 %)

5. Hutan Produksi yang dapat di konversi
:
241.757 Ha (3,80 %)

6. Lahan Pemukiman
:
519.757 Ha (8,16%)

Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut) dataran di Propinsi Sulawesi Tengah terdiri dari:
a. 0 - 100 M = 20,2 %
b. 101 - 500 M = 27,2 %
c. 501 - 1000 = 26,7 %
d. 1.001 M keatas = 25,9 %

Jarak antara ibukota propinsi ke daerah kabupaten:
No

Jarak Antara

Kilometer
1


Palu - Poso


221 Km
2
Palu - Luwuk 607 Km
3
Palu - Toli-Toli 439 Km
4
Palu - Donggala 34 Km
5
Palu - Parigi Moutong 66 Km
6
Palu - Morowali 756 Km
7
Palu - Buol 806 Km
8
Palu - Tojo Unauna 300 Km

Daratan

Sulawesi merupakan pulau terbesar kelima di Indonesia setelah Papua, Kalimantan dan Sumatera dengan luas daratan 227.654 kilometer persegi. Bentuknya yang unik menyerupai bunga mawar laba-laba yang membujur dari utara ke selatan dan tiga semenanjung yang membujur ke timur laut, timur dan tenggara. Pulau ini dibatasi oleh Selat Makasar di bagian barat dan terpisah dari Kalimantan serta dipisahkan juga dari Kepulauan Maluku oleh Laut Maluku.

Pemerintahan di Sulawesi dibagi menjadi lima propinsi yaitu propinsi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo. Sulawesi Tengah merupakan propinsi terbesar dengan luas wilayah daratan 68,033 kilometer persegi dan luas laut mencapai 189,480 kilometer persegi yang mencakup semenanjung bagian timur dan sebagian semenanjung bagian utara serta Kepulauan Togean di Teluk Tomini dan pulau-pulau di Banggai Kepulauan di Teluk Tolo. Sebagian besar daratan di propinsi ini bergunung-gunung (42.80% berada di atas ketinggian 500 meter dari permukaan laut) dan Katopasa adalah gunung tertinggi dengan ketinggian 2.835 meter cari permukaan laut.

Sulawesi Tengah juga memiliki beberapa sungai, diantaranya sungai Lariang yang terkenal sebagai arena arung jeram, sungai Gumbasa dan sungai Palu. Juga terdapat danau yang menjadi obyek wisata terkenal yakni Danau Poso dan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna yang sekaligus menjadi obyek penelitian bagi para ilmuwan dan naturalis.

Ibukota Sulawesi Tengah adalah Palu. Kota ini terletak di Teluk Palu dan terbagi dua oleh Sungai Palu yang membujur dari Lembah Palu dan bermuara di laut.

Penduduk

Penduduk asli Sulawesi Tengah terdiri atas 12 kelompok etnis atau suku, yaitu:

1. Etnis Kaili berdiam di kabupaten Donggala dan kota Palu
2. Etnis Kulawi berdiam di kabupaten Donggala
3. Etnis Lore berdiam di kabupaten Poso
4. Etnis Pamona berdiam di kabupaten Poso
5. Etnis Mori berdiam di kabupaten Morowali
6. Etnis Bungku berdiam di kabupaten Morowali
7. Etnis Saluan atau Loinang berdiam di kabupaten Banggai
8. Etnis Balantak berdiam di kabupaten Banggai
9. Etnis Banggai berdiam di Banggai Kepulauan
10. Etnis Buol mendiami kabupaten Buol
11. Etnis Tolitoli berdiam di kabupaten Tolitoli
12. Etnis Tomini mendiami kabupaten Parigi Moutong

Disamping 12 kelompok etnis, ada beberapa suku terasing hidup di daerah pegunungan seperti suku Da'a di Donggala, suku Wana di Morowali, suku Seasea di Banggai dan suku Daya di Buol Tolitoli. Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah memiliki sekitar 22 bahasa yang saling berbeda antara suku yang satu dengan yang lainnya, namun masyarakat dapat berkomunikasi satu sama lain menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa pengantar sehari-hari.

Selain penduduk asli, Sulawesi Tengah dihuni pula oleh transmigran seperti dari Bali, Jawa, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan masyarakat Bugis dan Makasar serta etnis lainnya di Indonesia sejak awal abad ke 19 dan sudah membaur. Jumlah penduduk di daerah ini sekitar 2.128.000 jiwa yang mayoritas beragama Islam, lainnya Kristen, Hindu dan Budha. Tingkat toleransi beragama sangat tinggi dan semangat gotong-royong yang kuat merupakan bagian dari kehidupan masyarakat.

Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Kopi, kokoa dan cengkeh merupakan tanaman perdagangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan, beberapa macam kayu seperti agatis, ebony dan meranti yang merupakan andalan Sulawesi Tengah.

Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan diketuai oleh ketua adat disamping pimpinan pemerintahan seperti Kepala Desa. Ketua adat menetapkan hukum adat dan denda berupa kerbau bagi yang melanggar. Umumnya masyarakat yang jujur dan ramah sering mengadakan upacara untuk menyambut para tamu seperti persembahan ayam putih, beras, telur dan tuak yang difermentasikan dan disimpan dalam bambu.

Budaya

Sulawesi Tengah kaya akan budaya yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi yang menyangkut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengaruh agama.

Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo.

Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik spesial yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.

Sementara masyarakat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut Gampiri.

Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba-semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat.

Kesenian

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrume seperti suling, gong dan gendang. Alat musik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai bagian ritual keagamaan. Di wilayah beretnis Kaili sekitar pantai barat - waino - musik tradisional - ditampilkan ketika ada upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih populer bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival.

Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, kabupaten Poso dan masyarakat Kulawi, kabupaten Donggala. Tarian dero khusus ditampilkan ketika musim panen, upacara penyambutan tamu, syukuran dan hari-hari besar tertentu. Dero adalah salah satu tarian dimana laki-laki dan perempuan berpegangan tangan dan membentuk lingkaran. Tarian ini bukan warisan leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama pendudukan jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II.

Agama

Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar memeluk agama Islam. Tercatat 72.36% penduduk memeluk agama Islam, 24.51% memeluk agama Kristen dan 3.13% memeluk agama Hindu dan Budha. Islam disebarkan di Sulawesi Tengah oleh Datuk Karamah, seorang ulama dari Sumatera Barat dan diteruskan oleh Said ldrus Salim Aldjuri - seorang guru pada sekolah Alkhairaat.

Agama Kristen pertama kali disebarkan di kabupaten Poso dan bagian selatan Donggala oleh missioner Belanda A.C Cruyt dan Adrian.

lklim

Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatera, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3.000 milimeter per tahun yang termasuk curah hujan terendah di Indonesia.

Temperatur berkisar antara 25 sampai 31 Celcius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai 22' Celcius.

Flora dan Fauna

Sulawesi memiliki flora dan fauna tersendiri. Binatang khas pulau ini adalah anoa yang mirip kerbau, babirusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring pada mulutnya, tersier, monyet tonkena Sulawesi, kuskus marsupial Sulawesi yang berwarna-warni yang merupakan varitas binatang berkantung, serta burung maleo yang bertelur pada pasir yang panas.

Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh kayu agatis yang berbeda dengan Sunda Besar yang didominasi oleh pinang-pinangan (spesies rhododenron). Variasi flora dan fauna merupakan obyek penelitian dan pengkajian ilmiah. Untuk melindungi flora dan fauna, telah ditetapkan taman nasional dan suaka alam seperti Taman Nasional Lore Lindu, Cagar Alam Morowali, Cagar Alam Tanjung Api dan terakhir adalah Suaka Margasatwa di Bangkiriang.

Dombu

Gunung Gawalise di barat kota Palu, kabupaten Donggala, berpotensi sebagai obyek wisata alam dan budaya yang menarik. Gunung Gawalise berjarak 34 kilometer dari Palu dan dapat ditempuh oleh kendaraan roda empat dalam kurun waktu 1 jam 30 menit. Di gunung Gawalise terdapat desa Dombu yang terletak di ketinggian dan berhawa sejuk. Desa lainnya adalah desa Matantimali, desa Panasibaja, desa Bolobia dan desa Rondingo.

Desa-desa ini didiami oleh suku Da'a. Suku Da'a merupakan sub-etnis suku Kaili yang mendiami daerah pegunungan. Di desa-desa ini dapat disaksikan atraksi sumpit yang diperagakan oleh warga setempat. Rumah di atas pohon masih ditemukan di desa Dombu sampai sekarang.

Di Gunung Gawalise dapat dilakukan hiking/trekking dengan rute-rute Wayu - Taipanggabe - Dombu - Wiyapore - Rondingo Kayumpia/Bolombia - Uemanje dalam waktu kurang dari 1 minggu.

Taman Nasional Lore Lindu

Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu lokasi perlindungan hayati Sulawesi. Taman Nasional Lore Lindu terletak sekitar 60 kilometer selatan kota Palu. Luas Taman Nasional 217.991 hektar dengan ketinggian bervariasi antara 200 sampai dengan 2.610 meter diatas permukaan laut.

Taman Nasional Lore Lindu memiliki fauna dan flora endemik Sulawesi serta panorama alam yang menarik karena terletak di garis Wallacea yang merupakan wilayah peralihan antara zona Asia dan Australia.

Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di selatan kabupaten Donggala dan bagian barat kabupaten Poso menjadi daerah tangkapan air bagi 3 sungai besar di Sulawesi Tengah, yakni sungai Lariang, sungai Gumbasa dan sungai Palu.

Kawasan Taman Nasional Lore Lindu merupakan habitat mamalia asli terbesar di Sulawesi. Anoa, babi rusa, rusa, kera hantu, kera kakaktonkea, kuskus marsupial dan binatang pemakan daging terbesar di Sulawesi, civet Sulawesi hidup di taman ini. Taman Nasional Lore Lindu juga memiliki paling sedikit 5 jenis bajing dan 31 dari 38 jenis tikusnya, termasuk jenis endemik.

Sedikitnya ada 55 jenis kelelawar dan lebih dari 230 jenis burung, termasuk maelo, 2 jenis enggang Sulawesi.yaitu julang Sulawesi dan kengkareng Sulawesi. Burung enggang benbuncak juga disebut rangkong atau burung allo menjadi pengghuni Taman Nasional Lore Lindu.

Ribuan serangga aneh dan cantik dapat dilihat di sekitar taman ini. Layak diamati adalah kupu-kupu berwarna mencolok yang terbang di sekitar taman maupun sepanjang jalan setapak dan aliran sungai.

Patung-patung megalit yang usianya mencapai ratusan bahkan ribuan tahun tersebar di kawasan Taman Nasional Lore Lindu seperti Lembah Napu, Besoa dan Bada. Patung-patung ini sebagai monumen batu terbaik diantara patung-patung sejenis di Indonesia. Ada 5 klasifikasi patung berdasarkan bentuknya:

1.
Patung-patung batu: patung-patung ini biasanya memiliki ciri manusia, tetapi hanya kepala, bahu dan kelamin.
2.
Kalamba: ini adalah bentuk megalit yang banyak ditemukan dan menyerupai jambangan besar. Mungkin ini adalah tempat persediaan air, atau juga tempat menaruh mayat pada upacara penguburan.
3.
Tutu'na: ini adalah piringan-piringan dari batu, kemungkinan besar penutup kalamba.
4.
Batu Dakon: batu-batu berbentuk rata sampai cembung yang menggambarkan saluran-saluran, lubang-lubang tidak teratur dan lekukan-lekukan lain.
5.
Lain-lain: mortar batu, tiang penyangga rumah dan beberapa bentuk lain juga ditemukan.


Arti Lambang Sulteng
Lambang daerah Propinsi Sulawesi Tengah ditetapkan dengan Peraturan Daerah No.3 Tahun 1969 Tanggal 3 Oktober 1969.

Bentuk

Bentuk dari lambang Daerah Propinsi Sulawesi Tengah adalah symbol bentuk jantung, melambangkan bahwa isi dari pada lambing ini tertanam dan bersumber dari hati rakyat Sulawesi Tengah

Warna

1.

Warna yang digunakan pada dasar Lambang Daerah Sulawesi Tengah adalah; Biru Langit dan warna Kuning Emas pada gambar Bintang dan Buah Padi dan warna Biru laut pada gelombang.
2.

Warna Biru melambangkan kesetiaan (pada daerah, tanah air dan cita-cita) dan juga melambangkan cita-cita yang tinggi.
3.

Warna Kuning melambangkan kekayaan, keagungan dan kuluhuran budi.
4.

Warna Merah pada tulisan "Sulawesi Tengah" dengan dasar warna putih melambangkan keberanian dan kesatriaan yang didasarkan atas hati yang suci, keiklasan dan kejujuran.
5.

Warna Hijau pada buah dan daun kelapa serta kelopak kapas, melambangkan kesuburan dan kemakmuran, dengan bumi yang subur kita menuju pada kemakmuran.
6.

Warna Coklat pada batang kelapa melambangkan ketenangan.

Gambar

1.

Lambang daerah Sulawesi tengah dilukiskan dengan pohon kelapa yang disamping merupakan modal untuk daerah ini, juga melambangkan:
- Kesediaan untuk mengorbankan segala - galanya untuk mencapai cita-cita.
- Seluruh bagian pohon kelapa sangat berguna bagi kehidupan manusia.
Ketenangan dan tawakal dalam menghadapi segala tantangan.
- Pucuk yang lurus menunjuk bintang melambangkan keteguhan hati dalam usaha mencapai cita-cita hidup.

2.

Lambang Daerah Sulawesi Tengah dijiwai oleh Pancasila yang jelas terlukis pada bintang segilima daun kelapa lima helai, dan buah kelapa lima buah. Lebih jauh hal ini memberikan pengertian bahwa dengan jiwa Pancasila, diatas relnya/jalanya Pancasila, kita hendak mencapai cita-cita negara kebangsaan yang adil dan makmur diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
3.

Garis gelombang dua buah dengan masing-masing enam dan empat jalur gelombang memberikan pengertian akan sifat maritim dari Daerah Sulawesi Tengah dan disamping kekayaan alam kita, laut disekitarnya merupakan modal besar pula dalam usaha mendatangkan kemakmuran di Sulawesi Tengah.
4.

Padi dan Daun merupakan lambing umum kemakmuran. Jumlah padi dan kapas masing-masing sembilan belas dan tiga belas buah gerigi buah kapas ada empat buah.
5.

Angka 13 pada jumlah kapas, 4 pada gerigi kelopak kapas, 19 dan 6 serta 4 jumlah buah padi dan galur gelombang, memberi pengertian tanggal 13, bulan April, tahun 1964, yaitu tanggal, bulan dan tahun terbentuknya Propinsi Sulawesi Tengah.




Hotel dan Pariwisata
Dalam memberikan pelayanan terhadap wisatawan asing maupun domestik yang datang ke Sulawesi Tengah, diperlukan tersedianya akomodasi yang memadai. Akomodasi yang dimaksud ialah hotel, baik yang berbintang maupun yang non bintang. Jumlah hotel di Sulawesi Tengah tahun 2005 tercatat sebanyak 190 buah. Dibandingkan dengan tahun 2004 yang jumlahnya mencapai 175 buah, maka terjadi peringkatan sebanyak 25 buah hotel atau 8,57 persen.

Persediaan jumlah kamar hotel pada tahun 2005 mencapai 2.415 buah, bila dibandingkan tahun 2004 yang persediaan jumlah kamarnya hanya mencapai 2.297 buah, ini berarti terjadi kenaikan sebesar 5,14 persen. Dengan bertambahnya jumlah kamar hotel pada tahun 2005, maka tidak otomatis jumlah tempat tidur juga mengalami kenaikan, yang justru mengalami penurunan sebesar 36,91 persen yaitu dari 3.820 buah pada tahun 2004 menjadi 2.410 buah pada tahun 2005.

Tenaga kerja perhotelan di Propinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2005 mengalami peningkatan sebesar 21,19 persen yaitu dari 911 orang pada tahun 2004 menjadi 1.104 orang pada fahun 2005. Dari jumlah tenaga kerja tersebut umumnya masih didominasi oleh para lulusan SLTA, tetapi ada juga yang berasal dari tamatan SD dan SMP. Jumlah tenaga kerja perhotelan yang berpendidikan SLTA dan SD/SMP pada tahun 2005 masing-masing berjumlah 704 orang dan 253 orang, sedangkan yang berpendidikan tinggi (Universitas) berjumlah 66 orang dan berpendidikan khusus (sekolah perhotelan), berjumlah 71 orang.

Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel tahun 2005 untuk hotel berbintang mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu dari 54,42 persen tahun 2004 menjadi 51,48 persen tahun 2005. Hal yang same terjadi pada hotel non bintang yang pada tahun 2005 TMKnya malah mengalami penurunan dan 27,47 persen tahun 2004 menjadi 23,04 persen tahun 2005.

Rata-rata menginap untuk tamu asing pada hotel berbintang tahun 2005 puncaknya terjadi pada bulan Mei yaitu sebesar 10,33 hari per orang dan untuk hotel non bintang sebesar 12,36 hari per orang yaitu pada bulan Februari 2005. Sedangkan yang terkecil yaitu 1,86 hari terjadi pada bulan Oktober 2005 untuk hotel berbintang dan 1,00 hari pada bulan April, Mei 2005 untuk hotel non bintang. Namun jika dilihat rata-rata selama setahun baik hotel berbintang maupun non bintang, rata-rata tamu asing yang menginap mengalami peningkatan yang cukup berarti yaitu sebesar 6,08 hari untuk hotel berbintang dan 4,93 hari yang non bintang.

Selanjutnya rata-nata menginap untuk tannu dalam negeri/domestik terbesar terjadi pada bulan Juni 2005 sebesar 4,10 hari per orang untuk hotel bintang dan untuk hotel non bintang sebesar 2,39 hari per orang. Sedangkan rata-nata menginap terkecil terjadi pada bulan Oktober 2005 sebesar 1,49 hari per orang untuk hotel bintang dan pada bulan Juni, September, dan Desember 2005 sebesar 1,88 hari per orang untuk hotel non bintang.

Flora dan Fauna
Alfred Russel Wallace, seorang ahli entomolog (ilmu serangga) bangsa Belanda mengadakan penelitian di Indonesia (dahulu Hindia Belanda) pada tahun 1852 - 1862. Dalam bukunya yang diterbitkan dari hasil penelitian itu The Malay Archipelago 1889, ia membagi corak flora dan fauna di kepulauan Nusantara dalam tiga bagian / wilayah. Yaitu wilayah Barat meliputi Pulau Kalimantan, Pulau Bali, Pulau Jawa, dan Pulau Sumatera yang disebut daerah oriental; Wilayah Timur yang meliputi Pulau Papua dan pulau-pulau di sekitarnya sebagai daerah Australia dan Wilayah Tengah yang terletak antara bagian barat dan timur tersebut disebut daerah Wallacea. Daerah Wallacea ini meliputi Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Kepulauan Nusa Tenggara.

Masing-masing wilayah ini dipisahkan oleh garis khayal. Garis khayal sebelah barat yang melintas dari selatan ke utara melalui Selat Lombok dan Selat Makasar disebut garis Wallacea dan garis batas di sebelah timur yang melintas di kawasan sebelah timur Pulau Timor, terus ke utara melewati sebelah timur Pulau Buru dan Pulau Halmahera disebut garis Weber.

Indonesia di bagian barat, flora dan faunanya, mengambil corak Benua Asia, sedangkan di bagian timur mengambil corak benua Australia, sedangkan di bagian tengah mengambil corak keduanya atau corak peralihan.

Di Propinsi Sulawesi Tengah, seperti di daerah lainnya di Pulau Sulawesi, terdapat tumbuh-tumbuhan dan binatang yang bercorak Asia dan Australia.

Flora Jenis tumbuh-tumbuhan di Sulawesi Tengah dapat dibagi dalam dua bagian yaitu tumbuh-tumbuhan yang dibudidayakan oleh penduduk dan tumbuhan-tumbuhan yang hidup di kawasan hutan. Tumbuh-tumbuhan yang telah dibudidayakan antara lain padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang kedelai, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan seperti kopi, cengkeh, cokelat, jambu mete, kapu, dan sebagainya.

Di kawasan hutan belantara tropis daerah ini, terdapat berbagai jenis tumbuh-tumbuhan seperti kayu agathis, kayu meranti, kayu bakau, kayu hitam (ebony), rotan, palma, bambu, dan beraneka jenis anggrek hutan.

Dari sekian banyak jenis kayu tersebut yang paling terkenal dan banyak dibutuhkan di pasaran dunia adalah kayu hitam (ebony). Kayu ini tergolong jenis barang mewah, tetapi persediaannya sangat terbatas. Kawasan hutan kayu ebony ini pun tidak seberapa luas, yaitu di wilayah Kabupaten Donggala seluas 150.000 ha dan di wilayah Kabupaten Poso 50.000 ha. Jenis anggrek hutan yang paling terkenal dan khas dari daerah ini adalah jenis Anggrek Putri Donggala. Anggrek ini terdapat di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala.

Fauna Alam binatang di Propinsi Sulawesi Tengah cukup beragam. Binatang yang diternakkan penduduk antara lain sapi, kuda, kambing, kerbau, dan ternak unggas. Di kawasan hutan, dijumpai pula berbagai, jenis binatang liar, seperti burung srigunting brons, burung gosong, burung kakaktua, anoa, babi hutan, rusa, monyet, burung maleo, dan lain-lain.

Untuk melindungi kelestarian dari fauna dan flora ini, maka Pemerintah telah menetapkan kawasan hutan suaka alam/margasatwa dan kawasan taman nasional, antara lain;

1. Taman Nasional Lore Lindu
2. Cagar Alam Tanjung Api di Kabupaten Poso
3. Taman Hutan Raya Palu di Palu
4. Cagar Alam Morowali di Kabupaten Morowali
5. Kawasan Suaka Margasatwa Pulau Pinjan dan Tanjung Matop
6. Suaka Margasatwa Pati-Pati di Kabupaten Banggai
7. Suaka Margasatwa Dolangon di Toli-toli
8. Suaka Margasatwa Lombuyan di Kabupaten Banggai
9. Cagar Alam Laut Kepulauan Togian
10. Suaka Marga Satwa Bangkiriang



Seni Budaya
Suku bangsa Kaili merupakan penduduk mayoritas di propinsi Sulawesi Tengah, di samping suku-suku bangsa besar lainnya seperti Dampelas, Kulawi, dan Pamona. Orang Kaili dan Dampelas menganut agama Islam, sedangkan orang Kulawi dan Pamona merupakan penganut agama Kristen. Selain itu secara keseluruhan masih ada suku-suku bangsa lainnya yang tidak begitu besar jumlahnya, yaitu Balaesang, Tomini, Lore, Mori, Bungku, Buol Toli-toli, dan lain-lain.
Seorang anak kecil sedang memainkan alat musik tiup. Gambar diambil dari Desa Toro, salah satu desa yang terletak di sekitar Kawasan Taman Nasional Lore Lindu

Sebagian besar dari mereka sudah memeluk agama Islam terutama yang menetap di daerah pantai, sedangkan mereka yang tinggal di daerah pedalaman menganut agama Kristen atau kepercayaan nenek moyang. Mereka mengakui bahwa mereka berasal dari satu nenek moyang yang disebut Tomanuru, yaitu orang yang menjelma dari suatu tumbuh-tumbuhan tertentu yang merupakan titisan/jelmaan dari seorang dewa.

Di samping penduduk asli, di Sulawesi Tengah juga terdapat suku bangsa pendatang, seperti orang Bugis dari selatan serta orang Gorontalo dan Minahasa dari sebelah utara. Bahkan ada sebuah catatan sejarah yang menyatakan, bahwa raja-raja dari Sulawesi Selatan (seperti Bone, Gowa, dan Luwu) pernah lama berkuasa di Sulawesi Tengah, sehingga sampai dewasa ini masih terlihat adanya peninggalan-peninggalan unsur budaya yang memiliki ciri-ciri Bugis-Makassar, seperti bentuk rumah, adat istiadat, perkawinan, tata cara bertani, sistem kekerabatan, sistem mata pencaharian hidup, dan sebagainya.

Hubungan dengan suku-suku bangsa yang berasal dari Sulawesi Selatan membawa pengaruh pula dalam hal agama, dalam hal ini agama Islam yang menjadi agama mayoritas penduduk Sulawesi Selatan. Bukti sejarah menyatakan bahwa masuknya agama Islam ke Sulawesi Tengah berasal dari daerah Minangkabau melalui Makassar, yang dibawa oleh seorang mubalig pada saat sedang berdagang. Diperkirakan masuknya agama Islam ke Sulawesi Tengah pada abad XVII, yang mana saat itu penduduk setempat masih memeluk kepercayaan nenek moyang yaitu animisme dan dinamisme.

Kepercayaan animisme dan dinamisme ini terutama masih dianut oleh penduduk yang bermukim di daerah pedalaman, atau mereka yang termasuk kelompok masyarakat terasing di Sulawesi Tengah, seperti suku bangsa Tolare, Wana, Seasea, dan Daya. Inti dari kepercayaan warisan nenek moyang ini antara lain kepercayaan akan adanya makhluk-makhluk halus, yang dianggap sebagai kekuatan gaib, sebagai tempat berlindung dan bermohon, dengan melalui cara-cara tertentu atau dengan suatu upacara khusus. Banyak nama dan jenis makhluk halus yang dikenal, yang mendiami dan menguasai hutan, gunung, sungai, batu-batu besar, kuburan keramat (disebut anitu) atau laut. Penduduk setempat mengenal jenis-jenis makhluk halus yang sering menjelma sebagai orang pendek yang disebut topepa, makhluk halus yang menjelma menjadi bermacam-macam binatang (kalomba), atau roh-roh orang yang mati terbunuh waktu perang yang sering menampakkan diri tanpa kepala.

Roh atau makhluk halus dibedakan atas dua jenis, yaitu roh halus dari manusia yang telah meninggal karena disebut taulerultalivarani dan roh halus dari manusia yang mati dalam keadaan tidak wajar, seperti pontiana (roh orang mati karena melahirkan). Selain itu ada makhluk-makhluk halus yang menghuni sekitar tempat kehidupan manusia, yang dianggap sebagai penguasa alam dan sering mengganggu manusia. Agar tidak mengganggu manusia dan menimbulkan malapetaka, maka manusia harus mengadakan komunikasi secara khusus melalui upacara ritual dengan mempersembahkan sesaji.

Kepercayaan lain yang masih diyakini masyarakat ialah kepercayaan terhadap manusia biasa yang karena salah menggunakan ilmu hitamnya dapat membunuh orang lain dengan kekuatan roh jahatnya. Orang demikian disebut topeule, yang ditakuti masyarakat karena gangguan roh jahat (mbalasa) yang dimanfaatkannya dapat membuat orang sakit atau meninggal. Kepercayaan akan kematian seseorang sebagai akibat gangguan makhluk halus masih terasa dalam setiap upacara pengobatan tradisional, yaitu upacara balia. Oleh sebab itu peranan dukun (tobalia) sangat penting dalam mengobati orang-orang sakit atau sebagai penghubung antara manusia dengan roh halus.

Penduduk setempat juga percaya akan adanya makhluk-makhluk halus yang mendiami dan menguasai tempat-tempat tertentu, dan mereka dianggap sebagai dewa penguasa (pue) tempat-tempat tersebut. Makhluk halus yang menguasai laut disebut pue ntasi, yang menguasai tanah disebut pue ntana, yang menguasai hutan disebut pue nggayu, dan lain-lain.

Demikian pula masyarakat setempat masih mempercayai adanya benda-benda sakti, seperti tana sanggamu (tanah segenggam) yang diyakini sebagai salah satu benda sakti. Bila benda tersebut dibuka dari ikatannya, akan dapat mengakibatkan berbagai peristiwa alam misalnya gempa bumi, bencana alam, dan lain-lain. Di samping itu dikenal benda-benda sakti yang dapat digunakan sebagai penangkal diri, misalnya orang dapat menjadi kebal terhadap senjata tajam, anti guna-guna, tidak diganggu hantu, dan sebagainya. Benda-benda sakti ini dapat berupa keris, cincin, parang, potongan kayu, dan lain-lain.

Dengan masuknya agama Islam sebagai agama mayoritas serta agama-agama lain (terutama Kristen), kepercayaan-kepercayaan nenek moyang tersebut belum hilang sama sekali, bahkan tumbuh dan berkembang bercampur dengan agama dalam bentuk sinkretisme. Hal ini dapat disaksikan dalam penyelenggaraan upacara-upacara adat yang sudah merupakan perpaduan antara sistem kepercayaan lama dan agama. Meskipun demikian upacara-upacara yang dianggap kurang sesuai dengan agama berangsur-angsur hilang dalam bentuk aslinya, tinggal sisa-sisanya yang dikembangkan dalam simbol-simbol tertentu. Keadaan seperti ini terutama berlaku dalam suku-suku bangsa yang sudah memeluk salah satu agama.

Demikian pula halnya dengan nilai-nilai yang dimiliki suku-suku bangsa pendukung kebudayaan Sulawesi Tengah berorientasi pada ajaran agama Islam dan Kristen serta adat istiadat yang masih sesuai dengan kondisi kehidupan saat ini. Nilai-nilai yang berlandaskan ajaran agama Islam terungkap dalam kata-kata Adat bersendikan syara (adat berlandaskan ajaran agama Islam), sedangkan yang berdasarkan ajaran agama Kristen menitikberatkan akan "kasih terhadap sesama". Semua ini dijadikan pedoman dan sistem pengendalian sosial dalam kehidupan bermasyarakat, agar tercipta keteraturan yang terkendali serta keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

Salah satu nilai kehidupan yang berbunyi nilinggu mpo taboyo merupakan manifestasi keakraban hubungan kekerabatan. Pada hakikatnya nilai ini dapat diartikan sebagai suatu sikap hidup yang tidak menginginkan adanya jarak atau perbedaan yang dalam antara sesama kerabat, dalam hal ini perbedaan kaya dan miskin. Biasanya mereka yang tergolong mampu atau berkecukupan dalam hidup selalu menolong kerabatnya agar dapat hidup lebih layak.

Masyarakat Sulawesi Tengah juga mengembangkan suatu nilai yang dapat menunjukkan kesetiakawanan atau solidaritas dengan sesamanya, yaitu nilai gotong royong (nolunu). Nilai hidup ini merupakan realisasi kebersamaan mereka dalam menghadapi suatu kerja, yang manifestasinya dapat terlihat dalam segala aktivitas hidup sehari-hari, seperti bantu-membantu dalam suatu pekerjaan besar yang membutuhkan banyak tenaga kerja, memberi pertolongan kepada keluarga yang sedang dirundung musibah, serta kegiatan-kegiatan lainnya yang akan lebih cepat terselesaikan jika dikerjakan bersama-sama.

Demikian pula masyarakat Sulawesi Tengah mengembangkan sopan santun dalam tata cara pergaulan yang menentukan bagaimana orang seharusnya bersikap terhadap sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat. Adat sangat membatasi dan mengatur pergaulan muda-mudi. Mereka tidak dibenarkan bertemu berduaan tanpa didampingi seorang tua, karena itu perkawinan diatur oleh orangtua dari kedua belah pihak yang bersangkutan. Jika adat ini dilanggar, maka yang melanggar akan dikenai denda adat (nigivu) dengan memberikan sejumlah hewan tergantung dari besar kecilnya pelanggaran yang dilakukan.

Hal-hal yang tidak boleh dilakukan seseorang yang dianggap dapat merugikan orang lain juga diatur oleh adat yang berlaku dalam masyarakat. Biasanya pelaku pelanggaran adat akan dikenakan denda adat atau sanksi sosial lainnya, seperti menjadi bahan pembicaraan atau ejekan masyarakat, dikucilkan dari masyarakatnya, diusir dari lingkungan tempat tinggalnya, bahkan terjadi pembunuhan sebagai tindakan balas dendam, atau bentuk-bentuk denda dan sanksi lainnya. Sebagai contoh, seorang wanita dengan sengaja sampai pada perbuatan melanggar susila (pelanggaran yang dilakukan disebut salah kana), maka pelakunya bisa saja dibunuh oleh keluarga pihak wanita yang diganggu. Kalau pembunuhan tidak sampai terjadi, pelanggar akan dikenakan denda seperti yang telah ditentukan oleh adat.

Selain itu adat juga menetapkan beberapa larangan, seperti seorang laki-laki tidak boleh dengan sengaja melihat perempuan yang sedang mandi, salah berbicara sehingga menyebabkan orang lain tersinggung, seorang wanita tidak boleh menerima laki-laki lain jika suaminya sedang tidak berada di rumah, dan lain-lain. Pendidikan budi pekerti ditanamkan dalam diri individu sejak dia masih berusia anak-anak, dan biasanya dilakukan oleh orangtua sesudah makan malam.

Demikian pula dalam masyarakat dikembangkan sopan santun dalam hubungan kekerabatan, misalnya bagaimana harus bersikap, berkata-kata dan bertindak terhadap orangtua atau mereka yang lebih tua usianya dalam kehidupan sehari-hari. Pada umumnya mereka yang tergolong muda harus bersikap sopan dan hormat kepada golongan yang lebih tua usianya, serta mereka yang berasal dari golongan yang lebih tinggi status sosial dan kedudukannya dalam masyarakatnya. Sebaliknya golongan tua harus dapat bersikap hati-hati dalam memberikan contoh yang baik untuk diteladani oleh para generasi muda.

Pendidikan moral ditanamkan di dalam lingkungan keluarga secara ketat. Yang paling berperan dalam masalah pendidikan anak-anak adalah ibu. Oleh sebab itu anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan, lebih dekat hubungannya kepada ibu daripada ayah mereka.

Orang Kaili pada masa lalu mengenal beberapa lapisan sosial, seperti golongan raja dan turunannya (madika), golongan bangsawan (to guru nukapa), golongan orang kebanyakan (to dea), golongan budak (batua). Selain itu mereka juga memandang tinggi golongan sosial berdasarkan keberanian (katamang galaia), keahlian (kavalia), kekayaan (kasugia), kedudukan (kadudua) dan usia (tetua).

Pada masyarakat Sulawesi Tengah dikenal sistem kepemimpinan formal, dan informal. Kepemimpinan formal dalam desa di daerah Sulawesi Tengah dikepalai oleh seorang kepala desa. Kepala desa ini dalam menjalankan tugas-tugasnya dibantu oleh sekretaris desa, kepala urusan-urusan dan kepala dusun. Kemudian kepemimpinan secara informal diketuai oleh kepala adat dan anggota adat lainnya (tokoh-tokoh adat), pemuka-pemuka agama (para ulama, imam dan pembantu-pembantunya), dan organisisasi sosial kemasyarakatan seperti organisasi pemuda, organisasi wanita, dan sebagainya.

Meskipun masyarakat Sulawesi Tengah mendapat banyak pengaruh kebudayaan dari luar, namun pendidikan moral dan agama masih terus dilaksanakan baik di dalam maupun di luar lingkungan keluarga. Demikian pula walaupun masyarakat Sulawesi Tengah menerima banyak pembaharuan dari unsur-unsur kebudayaan luar, namun secara keseluruhan mereka dapat mempertahankan ketradisionalan dalam unsur-unsur kebudayaan yang dimiliki.





SEJARAH

Sebagai nama satu wilayah Sulawesi Tengah sama tuanya dengan sejarah Nusantara namun sebagai salah satu propinsi Republik Indonesia daerah ini tergolong muda. Propinsi Sulawesi Tengah dengan ibukotanya Palu dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 13/1964. Pembentukannya ditandai dengan upacara besar-besaran di kota Palu pada tanggal 13 April 1964 ketika Anwar Gelar Datuk Rajo Base Nan Kuning menerima penyerahan wilayah dan pemerintahan Keresidenan Sulawesi Tengah dari Gubernur Sulawesi Utara-Tengah.

Upacara bersejarah itu merupakan akhir dari suatu proses perjuangan rakyat di Sulawesi Tengah yang berlangsung lebih dari 10 tahun. Sebelum mencapai status sebagai daerah propinsi yang berdiri sendiri Sulawesi Tengah merupakan daerah keresidenan yang tergabung dalam Propinsi Sulawesi Utara-Tengah, yang dibentuk dengan Undang-undang Nomor 47/Prp/1960. Karena itu sejarah pemerintahan kedua propinsi ini tidak terlepas satu sama lain.

Seperti propinsi-propinsi lainnya di Pulau Sulawesi, Sulawesi Tengah juga mencatat beberapa kali perubahan administrasi pemerintahan sejak Proklamasi Kemerdekaan sampai statusnya ditetapkan sebagai daerah tingkat I.

Pada permulaan kemerdekaan, wilayah ini merupakan bagian dari Propinsi Sulawesi. Tetapi karena bergolaknya perang kemerdekaan pada masa itu pembenahan administrasi pemerintahan belum dapat dilakukan. Pemerintahan daerah Propinsi Sulawesi yang dibentuk bersama tujuh propinsi lainnya pada awal kemerdekaan Propinsi Sumatera, Propinsi Jawa Barat, Propinsi Jawa Tengah, Propinsi Jawa Timur, Propinsi Sunda Kecil, Propinsi Kalimantan, dan Propinsi Maluku - tidak banyak melakukan konsolidasi ke dalam. Demikian pula halnya di Propinsi Sulawesi. Gubernur Propinsi Sulawesi Dr. G.S.S.J. Ratulangi yang memulai tugasnya di Makassar pada 19 Agustus 1945 ternyata hanya bertahan sembilan bulan. Sebab pada tanggal 5 April 1946 tentara Belanda yang datang kembali bersama pasukan Sekutu menangkapnya dan kemudian mengasingkannya ke Serui, Papua.

Kendati demikian, pesan-pesan untuk meneruskan perjuangan mempertahankan kemerdekaan telah dikirim ke seluruh pelosok Pulau Sulawesi. Karena itulah meskipun pemerintahan daerah Propinsi Sulawesi tidak berjalan lagi, tokoh-tokoh pergerakan di daerah ini segera mengambil langkah-langkah untuk mempertahankan kemerdekaan yang sudah dicapai.

Di Kota Poso misalnya, para pemuda di bawah pimpinan W. L. Talasa mengambil alih kekuasaan pemerintahan dari tangan Jepang dan membentuk barisan sukarela dengan nama Pemuda Merah Putih. Organisasi ini dipimpin oleh Yacob Lamayuda, bekas perwira Heiho. Demikian pula di Donggala dan Palu. Raja Banawa R. Lamara Una mengambil alih kekuasaan tentara Jepang.

Sementara itu kurir Gubernur Sulawesi yang dikirim melalui Palopo tiba di Poso. Utusan ini terdiri dari Landau dan kawan-kawan. Lalu datang Ali Lemato, A. Tumu dan seorang kurir lainnya dari Gorontalo. Kedatangan mereka menambah semangat sehingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan lebih bergelora lagi di seluruh Pulau Sulawesi.

Untuk lebih meningkatkan perjuangan ke daerah-daerah lainnya dikirim pula kurir. Ke daerah Donggala / Palu diutus Abdul Gani (Isa Piola) yang membawa siaran-siaran tertulis dari Gubernur Sulawesi. Tetapi usaha-usaha para tokoh pergerakan dan pemuda untuk membentuk pemerintahan nasional RI di daerah ini tidak dapat terwujud karena digagalkan oleh kolonial Belanda (NICA) yang kembali ke Sulawesi Tengah dengan membonceng kedatangan tentara Sekutu pada bulan September 1945.

Keadaan semakin mencekam dan genting, ketika tentera Sekutu pada 1946 meninggalkan Indonesia dan menyerahkan kekuasaannya kepada Belanda. Sejak itu perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang secara langsung berhadapan dengan Belanda dilakukan secara bergerilya dan di bawah tanah.

Pada tanggal 3 Maret 1946, tokoh-tokoh kelaskaran wilayah Palu - Donggala mengadakan pertemuan untuk meningkatkan gerakan perlawanan secara nyata melalui pembentukan partai-partai politik. Terbentuk beberapa organisasi sebagai wadah perjuangan seperti Perjuangan Rakyat Indonesia Merdeka (Prima) di daerah Sigi-Dolo, Partai Rakyat Indonesia (Parindo) di daerah Wani, Gerakan Rakyat Indonesia Merdeka (Gerima) di daerah Tawaeli, Angkatan Pemuda Indonesia (API) di Palu dan Organisasi Wanita di Biromaru. Perlawanan demi perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan, meskipun kota-kota penting di wilayah ini praktis sepenuhnya di bawah kontrol Belanda.

Penjajah yang ingin mengembalikan kekuasaannya di Indonesia menyadari bahwa untuk mengembalikan Indonesia seperti halnya sebelum perang (PD II) adalah tidak mungkin sama sekali. Oleh karena itu Gubernur jenderal Hindia Belanda di Jakarta Dr. H.J. Van Mook mencetuskan gagasan untuk membentuk negara serikat atau federasi yang akan tergabung dalam Uni Indonesia-Belanda.

Guna mewujudkan gagasan ini Van Mook mengadakan Konferensi Malino pada 15-25 juli 1946. Konferensi ini menelorkan beberapa keputusan: antara lain, negara Indonesia nantinya harus berbentuk federasi dan sebelum negara federal tersebut terbentuk, maka di dalam masa peralihan kedaulatan ada di tangan Belanda.

Tanpa mempedulikan perundingan - perundingan yang sedang dilangsungkan oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia, Van Mook lebih mematangkan lagi keputusan Konferensi Malino tersebut pada Konferensi Denpasar yang diselenggarakan pada 24-28 Desember 1946.

Dalam Konferensi Denpasar itulah dibentuk Negara Indonesia Timur (NIT) yang merupakan negara bagian pertama dari negara serikat yang akan didirikan tersebut. NIT berdiri tanggal 24 Desember 1946 dengan ibukotanya Makassar (Ujungpandang) dan sebagai presidennya Tjokorde Gede Raka Sukawati. Wilayah NIT meliputi 13 daerah yaitu Sulawesi Selatan, Minahasa, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Kepulauan Sangihe Talaud, Maluku Utara, Maluku Selatan, Bali, Lombok, Timor, dan pulau-pulau Flores, Sumbawa, dan Sumba.

Menurut naskah pembentukan NIT pada bab III pasal 14 ayat 1 sub 5e disebutkan: Daerah Sulawesi Tengah terdiri dari resort afdeling Poso dan Donggala meliputi kerajaan-kerajaan Tojo, Poso, Lore, Una-Una, Bungku, Mori, Banggai, Banawa, Tawaeli, Palu, Sigi, Dolo, Kulawi, Parigi, Moutong, dan Toli-Toli.

Kehadiran NIT segera diketahui oleh tokoh-tokoh pergerakan sebagai negara bentukan kolonial Belanda. Karena itu pada tanggal 2 Januari 1947 seluruh partai politik di Sulawesi Tengah mempersatukan diri dalam satu wadah yang dinamakan Gabungan Perjuangan Rakyat Indonesia (Gapprist).

Keadaan ini berlangsung sampai dilaksanakannya pengakuan kedaulatan RIS oleh Kerajaan Belanda pada tanggal 27 Desember 1949. Sesudah itu di seluruh Indonesia termasuk di daerah ini terjadi masa-masa peralihan ketatanegaraan. Sebelumnya yaitu pada tanggal 30 Agustus 1949 Pemerintah NIT membentuk DPRD (Dewan Perwakilan Rakyat Daerah) Sulawesi Tengah.

Melalui badan legislatif inilah organisasi-organisasi pergerakan di daerah ini seperti IPPRI (Ikatan Persatuan Perjuangan Rakyat Indonesia) menuntut pembubaran NIT dan kembali bergabung dengan Negara Republik Indonesia. Untuk itu pula kepada wakil daerah Sulawesi Tengah di DPR NIT di Makassar dikirim kawat yang isinya bahwa partai-partai pergerakan di Sulawesi Tengah yang terdiri dari 29 partai memutuskan menyokong gerakan pembubaran NIT dengan segera dan terbentuknya Negara Kesatuan RI.

Sebagai kelanjutan dari kawat tersebut, maka pada tanggal 6 Mei 1950 diadakan rapat umum di Palu yang dihadiri oleh pejabat-pejabat dan para pemimpin partai politik setempat.

Dalam rapat umum itu dibacakan Maklumat Pucuk Pimpinan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Isinya, antara lain, menyatakan: "Mulai tanggal 6 Mei 1950 pukul 007.00 pagi tiga kerajaan Palu, Sigi, Dolo, dan Kulawi beserta seluruh rakyatnya menyatakan melepaskan diri dari Negara Indonesia Timur (NIT) dan menggabungkan diri dengan Republik Indonesia.

Pernyataan yang terdiri atas 12 butir tersebut ditandatangani oleh Tjaqo Idjazah dan R. Sungkowo atas nama BKR dan Lumowa mewakili pihak Kepolisian. Sejak itu tuntutan pembubaran NIT semakin gencar dan tak dapat di bendung lagi. Akhirnya Pemerintah NIT memberi kuasa kepada Pemerintah RIS untuk membicarakan tuntutan sanubari rakyatnya ini dengan Pemerintah RI di Yogyakarta.

Pada tanggal 19 Mei 1950, antara Pemerintah RIS dan Pemerintah RI tercapai persetujuan untuk membentuk negara kesatuan dengan jalan mengubah konstitusi RIS, yang kemudian dilanjutkan dengan diterbitkannya UU RIS No. 7 tahun 1950, tentang perubahan UUD RIS menjadi Undang-undang Dasar Sementara (UUDS). Kemudian pada tanggal 17 Agustus 1950 dinyatakanlah pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta pembubaran negara RIS beserta negara-negara bagiannya.

Sejak itu pemerintahan nasional Propinsi Sulawesi kembali menjalankan fungsinya. Sebagai pejabat gubernur diangkat BW Lapian (17-8-1950 sampai 1-07-1951). Selanjutnya pada tanggal 4 juli 1951, ditetapkan Sudiro sebagai gubernur permanen untuk propinsi ini.

Sejalan dengan pembangunan di bidang pemerintahan, pada tahun 1960 dengan Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 1960 yang kemudian diubah dengan Undang-undang Nomor 47/ Prp tahun 1960, Propinsi Sulawesi dimekarkan menjadi dua propinsi yaitu Propinsi Sulawesi Selatan-Tenggara (Sulsera) dengan ibukotanya Makassar dan Propinsi Sulawesi UtaraTengah (Sulutteng) dengan ibukotanya Manado.

Kemudian dengan semakin meningkatnya perkembangan pemerintahan dan pembangunan, maka Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi UtaraTengah dimekarkan lagi dengan Undang-undang No.13/1964 menjadi dua propinsi daerah tingkat I yaitu: Propinsi Sulawesi Utara dengan ibukotanya Manado dan Propinsi Sulawesi Tengah dengan ibukotanya Palu.

Peningkatan status ini membuka peluang bagi Sulawesi Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Anwar Gelar Datuk Madjo Baso Nan Kuning (1964-1968) untuk segera mengejar ketertinggalannya, terutama dalam bidang pemerintahan, dari propinsi-propinsi lainnya di luar bekas NIT. Namun penataan yang lebih menyeluruh, di barengi dengan pelaksanaan program pembangunan sejalan dengan pencanangan Repelita 1, baru terjadi mulai masa bakti Mohammad Yasin yang menjadi gubernur dari tahun 1968 sampai tahun 1973.

Hal ini terjadi karena beratnya persoalan yang dihadapi rakyat Sulawesi Tengah menyusul eskalasi pemberontakan DI/TlI Kahar Muzakkar dan PRRI/Permesta pada tahun 1950an, dan kemudian G-30-S/PKI. Serangkaian peristiwa tersebut menimbulkan banyak kerusakan fisik yang memporak-porandakan kehidupan perekonomian rakyat. Maka di bawah M. Yasin dimulailah perbaikan berbagai prasarana infrastruktur, seperti sarana perhubungan untuk mempelancar arus barang dan manusia dari satu daerah ke daerah lainhya. Dalam periode Pelita I Sulawesi Tengah mencatat 92 proyek pembangunan yang menghabiskan biaya lebih dari Rp 2,2 milyar.

Sejak itu Propinsi Selawesi Tengah berusaha terus untuk memacu pembangunan.

LINTASAN SEJARAH

Seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia Sulawesi Tengah memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan, tentu saja, tidak bisa dilepaskan dari sejarah Nusantara secara keseluruhan. Sulawesi Tengah telah memiliki penghuni tetap sejak zaman prasejarah.

Ciri-ciri fisik penduduk asli Sulawesi Tengah memiliki kemiripan dengan suku-suku bangsa asli Indonesia lainnya yang berasal dari percampuran antara bangsa Wedoid dan Negroid. Penduduk asli keturunan kedua ras tersebut kemudian berkembang menjadi suku-suku baru menyusul datangnya gelombang perpindahan bangsa Proto-Melayu pada tahun 3000 SM dan Deutro-Melayu pada sekitar 300 SM.

Di beberapa daerah di Sulawesi Tengah, misal di tepian Danau Poso, telah ditemukan berbagai peralatan dalam bentuk kedudayaan Dongson (perunggu) dari zaman Megalitikum. Barang-barang tersebut berupa kapak-kapak dan gelang-gelang perunggu, manik-manik dan kulit-kulit siput, di samping sumpit dan jerat untuk berburu. Beberapa suku terasing masih mempergunakan alat-alat seperti itu.

Namun karena saking tuanya Sulawesi Selatan sebagai daerah hunian manusia, beberapa cerita rakyat misalnya yang cukup populer di Kecamatan Banawa, Kabupaten Donggala - mengklaim nenek moyang mereka adalah keturunan langsung dari manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Ceritanya mirip kisah Adam dan Hawa.

Alkisah, Tuhan menciptakan manusia dari dua genggam tanah. Yang satu menjadi seorang lelaki bernama Muljadi dan satu genggam lagi menjadi seorang perempuan bernama Juruantanah. Namun, jika Muljadi memiliki organ sempura, Juruantanah tidak. Alat kelaminnya tidak sempurna dan harus diperbaiki dulu oleh Muljadi dengan menggunakan tulang rusuk kirinya sebelum mereka menjadi suami-istri.

Suku Tomini, yang terdiri dari dua subsuku (Tialo dan Lauje), di Teluk Tomini juga terdapat mitos serupa. Mereka mengaku nenek moyangnya adalah Saya Vuntu (perempuan) dari bumi dan Tompido (laki-laki) yang turun dari langit. Dari pasangan ini lahir empat anak dua laki-laki dan dua perempuan yang kemudian menjadi dua pasang suami-istri. Dari pasangan Wulan Membua-Yelelumpu lahir anak-anak yang kelak menjadi suku Tialo (Tomini) dan menghuni daerah pesisir. Sedangkan Yelelumut-Sai Mandulang menurunkan suku Lauje yang menghuni daerah pegunungan.

Dari tradisi lisan juga diketahui adanya periode-periode To Manurung, atau utusan dari kayangan, yang merupakan perlambang kedatangan penguasa-penguasa dari luar untuk membawa perbaikan. dalam kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan. Yang menarik, setiap To Manurung tadi selalu digambarkan datang di tengah-tengah suku atau masyarakat yang sudah ada. Maka bisa ditarik kesimpulan bahwa yang dimitoskan. sebagai utusan dari kayangan itu mungkin saja merupakan figur pemimpin atau penakluk yang berasal dari kaum pendatang.

Sebagai daerah yang memiliki kekayaan alam berlimpah, Sulawesi Tengah tentu saja mengundang kedatangan kaum migran dari berbagai kawasan, yang kemudian menimbulkan gelombang perpindahan dan pada akhirnya menghasilkan percampuran kebudayaan antara penghuni lama dengan pendatang baru.
Berdasarkan perbedaan ciri-ciri fisik, kebudayaan dan dialek bahasa, suku-suku bangsa di Sulawesi Tengah dapat dibagi ke dalam tiga kelompok besar: Palu Toraja, Koro Toraja, dan Poso Toraja. Manakah di antara ketiga kelompok besar ini yang mula-mula berpindah dari tanah asalnya? Dan di manakah kira-kira perpindahan itu dimulai?

Sarjana Swedia Walter Kaundem dalam bukunya Migration of Toraja in Central Celebes menyimpulkan bahwa ketiga kelompok tersebut - Palu, Koro dan Poso - menempuh dua rute pokok dalam perjalanan mereka. Perpindahan mereka diperkirakan dimulai dari suatu tempat di Malili Tenggara, Teluk Bone, terus ke barat laut dan singgah di kawasan pegunungan di sebelah barat Danau Poso. Dari tepi Danau Poso mereka menyebar lagi ke barat, barat daya, utara sampai ke daerah pegunungan Toli-Toli dan pantai Teluk Tomini. Mereka juga menempati daerah pantai utara dan pantai timur laut Sulawesi. Pada rute yang satu lagi mereka bergerak ke utara dan kemudian bercabang ke timur laut dan ke barat laut.

Rute perpindahan yang pertama diperkirakan dilakukan oleh kelompok Koro Toraja, kemudian disusul oleh Poso dan Palu. Perpindahan yang terjadi kemudian merupakan perpindahan penduduk timur dan bergerak lebih jauh ke utara dan barat laut.

Dari cerita rakyat diketahui bahwa di dekat Danau Poso terdapat monumen yang dibangun oleh nenek moyang mereka untuk memperingati perpisahan mereka sebelum menyebar ke arah empat mata angin. Monumen tersebut berbentuk tonggak batu (menhir). Ketiga kelompok besar itu terbagi lagi ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dan bergerak terus. Ada yang kemudian menetap di lembah Palu, ada yang mendiami Teluk Tomini dan ada yang terus menyeberang lautan dan mencapai pulau-pulau Togian di bagian timur laut. Yang lainnya bahkan mencapai daerah barat daya Parigi. Kelompok - kelompok kecil tersebut kemudian menciptakan suku-suku baru. Kebiasaan berpindah-pindah itu diperkirakan berhenti pada abad ke-18.

Sejarah Sulawesi Tengah sampai akhir abad ke-13 boleh dikatakan gelap sama sekali. Minimnya sumber tertulis menyulitkan penulisan sejarah tentang kerajaan-kerajaan kuno di daerah tersebut.

Pada waktu itu di Sulawesi Tengah sudah berdiri sejumlah kerajaan, seperti Kerajaan Banawa, Kerajaan Tawaeli, Kerajaan Sigi, Kerajaan Bangga, dan Kerajaan Banggai. Buku Negara kertagama yang ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365 menyebutkan daerah Banggai sebagai salah satu wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Menurut cerita rakyat, Raja Banggai Adi Lambal memang pernah menyerahkan pemerintahannya kepada seorang raja dari jawa, yang mengawini salah seorang iparnya. Raja jawa tersebut digelari Tomundo Doi Jawa.

Menurut cerita rakyat, pusat pemerintahan Kerajaan Banawa Kuno terletak di suatu tempat di gunung yang dinamai Kainggurui dan nenek moyang rajanya berasal dari sejenis tumbuhan-tumbuhan yang mengandung banyak air, namanya Lian. Setelah permaisurinya "kembali ke langit", Raja Lian kawin lagi dengan seorang wanita yang menjelma dari satu tangkai bambu kuning. Dari perkawinan ini lahir seorang anak perempuan bernama Gonenggati yang kemudian memberi Lian tujuh orang cucu enam laki-laki dan satu perempuan. Keenam anak laki-laki tersebut masing-masing menyebar ke daerah-daerah lain, menikah dengan wanita setempat dan kemudian menjadi penguasa di daerah baru tersebut.

Kisah tentang asal-usul kerajaan-kerajaan lainnya juga tidak jauh berbeda dengan asal-usul Kerajaan Banawa. Penguasa Kerajaan Tawaeli, misalnya, juga diceritakan berasal dari penjelmaan daun. Di antara kedua kerajaan tersebut pernah terjadi peperangan yang berkepanjangan karena persoalan perempuan.

Informasi tentang keberadaan kerajaan-kerajaan tersebut terungkap lebih jelas pada Zaman Baru, atau sekitar abad ke-16, yang ditandai dengan kehadiran Sawergading, tokoh penjelmaan To Manurung yang diterima secara kesatuan di Sulawesi Tengah. Dari tradisi lisan ini dapat disimpulkan bahwa Sulawesi Tengah bersatu ketika berada di bawah kekuasaan Sawergading yang berasal dari Kerajaan Bone, Sulawesi Selatan.

Pada abad ke-16 Islam mulai berkembang di kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah sebagai hasil dari ekspansi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan. Ketika Kerajaan Banggai berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ternate, agama Islam pun mulai menggeser animisme dan dinamisme yang dianut masyarakat setempat. Namun karena Kesultanan Ternate pernah berada di bawah kekuasaan Portugis, maka secara tidak langsung Banggai pun jatuh ke tangan bangsa Portugis.

Selain Kerajaan Banggai, pada abad ke-16 di Sulawesi Tengah terdapat sejumlah kerajaan yang cukup penting, antara lain: Banawa, Sigi, Biromaru, Tawaeli, Pontolan, Sindue, Dolo, Bangga, Tatanga, Palu, Sibalaya, Kulawi, Parigi, Kasimbar, Muotong, Lambunu, Pamona, Pekurehua, Ondae, Mori, dan Buol. Di Teluk Tomini juga terdapat kerajaan-kerajaan tua seperti Sipayo dan Bondoyo, namun sumber-sumber sejarah tentang kerajaan-kerajaan tersebut kini tidak ada lagi.

Pada abad tersebut kerajaan-kerajaan dari Sulawesi Selatan semakin memperbesar pengaruhnya di Sulawesi Tengah. Perluasan pengaruh kekuasaan ini diiringi dengan adanya hubungan perkawinan di antara para penguasanya. Kemudian datang pula pengaruh dari Mandar, terutama di kawasan pantai barat dan pantai timur Teluk Tomoni. Raja-raja Tawaeli, Kasimbar, Toribulu, dan Muotong mengaku berasal dari keturunan raja-raja Mandar.

Namun pengaruh yang mula-mula datang adalah dari Kerajaan Bone dan Kerajaan Wajo. Hal ini diketahui dari tradisi lisan bahwa payung-payung kerajaan dari beberapa raja yang ada berasal dai Bone. Begitu pula dengan asal-usul penguasa suku Tialo dari Teluk Tomini bernama Labaso yang kabarnya berasal dari Bone, dan keturunan raja Sindoe yang berasal dari Welado - sehingga dalam lontara orang Welado, Sindue ditulis Sindo. Dalam silsilah raja Sindue disebut adanya perkawinan antara putri raja yang berkepala dua bernama Pincepute dengan seorang bangsawan dari Welado.

Dengan adanya hubungan perkawinan tadi maka adat kebiasaan dan kebudayaan serta tata pemerintahan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan dapat diterima di Sulawesi Tengah. Hal ini terlihat dari bentuk rumah, nama yang berawalan La, Daeng, Andi dan struktur pemerintahan dalam bentuk Pitunggota dan Patanggota.

Pitunggota adalah suatu dewan yang terdiri dari tujuh anggota dan merupakan lembaga legislatif yang diketuai oleh seorang Baligau. Susunannya sebagai berikut: Madika Malolo, Madika Matua, Ponggawa, Galara, Tadulako, Pabicara, dan Sabandara. Pejabat-pejabat ini diangkat dan diberhentikan oleh Magau atas persetujuan Maligau. Susunan pemerintahan ala Bone ini terdapat di Kerajaan Banawa dan Kerajaan Sigi.

Kerajaan Palu dan Kerajaan Tawaeli mengatur Patanggota, sistem pemerintahan ala Wajo. Patanggota Tawaeli terdiri dari Mupabomba, Lambara, Mpanau, dan Baiya.

Menyusul pengaruh Bugis adalah pengaruh Mandar, seperti yang terjadi dengan munculnya kerajaan-kerajaan di Teluk Tomini di mana cikal-bakal rajanya berasal dari Mandar. Dalam bidang pemerintahan pengaruh Mandar bisa dilihat dengan dipakainya istilah raja. Sebelumnya yang dikenal hanyalah gelar Olongian atau tuan tuan tanah yang memerintah secara otonom di wilayahnya masing-masing. Gelar-gelar lainnya yang berasal dari Mandar adalah Pue dan Puang. Dalam silsilah raja-raja Kasimbar tercatat adanya tokoh bernama Arajang Pate Kaci yang menikah dengan putri Olongian setempat. Kalau dihubungkan dengan berita dari zaman sejarah kuno pada waktu kedatangan ekspedisi dari Mandar di bawah komando tiga bersaudara Toriwisean, Magau Dianggu dan. Pueta Karikaca, dapat dapat ditarik kesimpulan bahwa Karikacalah yang meneruskan petualangannya ke Teluk Tomini, lalu menikah di Kasimbar dan kemudian menjadi raja di tempat itu.

Menurut tradisi lisan, tokoh inilah yang melancarkan penaklukan dari Tolole sampai Molosipat. Selanjutnya antara anak Olongian setempat, cucu Pueta Karikaca, yang bernama Pua Woli menikah dengan Sappewali yang diyakini sebagai bangsawan dari Mandar. Sappewali kemudian dinobatkan sebagai raja Toribulu. Dari perkawinan ini lahirlah Putri Pika yang kemudian kawin dengan Raja Moutong Tombolotutu.

Kerajaan Moutong pun merupakan suatu kerajaan yang cikal-bakal rajanya berasal dari Mandar. Dalam sebuah cerita rakyat dikisahkan bahwa pada zaman dahulu ada suatu kerajaan tua di Lambunu yang cikal-bakal rajanya berasal dari Lampasio. Yang menarik, bahasa yang dipergunakan di Kerajaan Lambunu mirip dengan bahasa Buol/Toli-Toli. Menurut cerita tersebut asal raja Lambunu memang bersaudara dengan raja dari Toli-Toli.

Di Kerajaan Lambunu ada seorang bangsawan Mandar yang karena kematian istrinya lalu menitipkan putranya yang bernama Magaluntung untuk dipelihara oleh raja Lambunu. Setelah dewasa Magaluntung dijemput oleh ayahnya dan kemudian dinobatkan sebagai raja di Motuong. Namun sebelum dia dilantik sebagai raja, ayahnya telah mengikat perjanjian saling bantu dan saling menghormati dengan raja Lambunu. Walaupun kerajaan di Teluk Tomini ini berasal dari mandar, agaknya pengaruh Gorontalo/Ternate yang datang lebih dahulu lebih dominan dalam struktur pemerintahannya. Maka susunan pemerintahannya sebagai berikut: Olongian (kepala negara), jogugu (perdana menteri), Kapitan Laut (menteri pertahanan), Walaapulu (menteri keuangan), Ukum (menteri perhubungan), dan Madinu (menteri penerangan).

Tentang kerajaan-kerajaan yang ada di lembah Kaili dapat diketahui dari cerita rakyat bahwa dari sekian banyak kerajaan yang akhirnya berkembang sebagai kerajaan besar adalah Banawa di pantai barat Sulawesi Tengah. Kerajaan Banawa (Zaman Baru) dibentuk dengan bantuan atau campur tangan penguasa luar, dalam hal ini Sawerigading, walaupun pada waktu itu memang telah ada pemimpin kelompok masyarakat setempat. Cikal-bakal rajanya diawali oleh perkawinan antara - putra Sawerigading, Lamappangando, dengan Putri Ibadantasa dari Ganti. Keturunan dari hasil perkawinan inilah yang kelak berkuasa di Banawa selama beberapa generasi.

Seiring dengan meluasnya pengaruh kekuasaan kerajaan-kerajaan Sulawesi Selatan, agama Islam pun berkembang pesat di Sulawesi Tengah. Daerah-daerah yang pertama tersentuh ajaran Islam adalah kawasan pesisir, karena persebaran agama ini mengikuti rute perclagangan. Sedangkan daerah pedalaman pada abad ke-16 masih tetap berpedoman pada animisme yang telah mereka kenal sejak zaman kuno.

Untuk wilayah Sulawesi Tengah agaknya Kerajaan Buol dan Kerajaan Luwuk Banggai yang mula-mula menerima ajaran Islam, yaitu pada sekitar pertengahan abad ke-16. Kedua kerajaan ini merupakan daerah pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate yang telah menganut Islam paling lambat sejak abad ke-15.

Sejak tahun 1540 Buol sudah berbentuk kesultanan yang diperintah oleh seorang yang memakai nama Islam, Eato Mohammad Tahir, yang menduduki tahta Buol sampai tahun 1595. Dengan demikian bisa dipastikan bahwa selambat-lambatnya Islam masuk dari Ternate ke daerah tersebut sejak zaman Sultan Eato. Dalam sejarah Buol tercatat bahwa Sultan Eato bersahabat dengan Sultan Ternate Hairun (1550 - 1570) dan Sultan Babullah (1570 - 1584). Harmonisnya hubungan persahabatan di antara kedua kerajaan Islam tersebut Sultan Babullah menghadiahkan sebuah tongkat berkepala emas yang berhiaskan tulisan Arab yang berbunyi "Sultan Ternate."

Portugis merupakan bangsa Eropa pertama yang memasuki Sulawesi Tengah, disusul oleh Spanyol dan kemudian Belanda (VOC). Namun dalam perkembangan selanjutnya peta kekuatan di kawasan tersebut berada dalam dominasi Belanda.

Pada tahun 1669 sudah menjalin hubungan dengan banyak kerajaan di Sulawesi Tengah, termasuk kerajaan-kerajaan Kaili seperti Banawa, Tawaeli, Palu, Loli, dan Sigi. VOC mengadakan kontrak pembelian emas dengan Kaili. Sebelumnya Belanda juga telah menjalin hubungan dagang dengan Parigi, setelah memaksa Spanyol pergi dari sana pada tahun 1663.

Adanya kontrak perdagangan emas antara Kaili dengan VOC ternyata mengundang campur tangan VOC dengan dalih untuk mengamankan armada kapalnya dari serangan bajak laut yang pada waktu itu memang sering mengganggu perairan Selat Makassar. Ancaman paling besar datang dari kawanan bajak laut Mindanao. Belanda juga membangun benteng atau loji di Parigi dan Lambunu. Pembuatan loji di Parigi merupakan bentuk campur tangan Belanda untuk secara langsung mengawasi penambangan emas yang diusahakan oleh sebuah perusahaan Belanda. Tetapi penambangan ini tidak lama usianya karena produksinya merosot terus.

Gagal dari tambang emas, Belanda mulai mengusik Kerajaan Buol yang telah memiliki hubungan perdagangan dengan Portugis sejak tahun 1592. Belanda memesan babi dari Sultan Pondu dari Buol yang beragama Islam. Pesanan tersebut, yang sebenarnya merupakan provokasi, mengundang amarah Sultan Pondu. Dalam suatu perlawanan atas penghinaan tersebut Sultan Pondu tertangkap dan kemudian dibawa ke Manado. Di sana ia dibunuh dengan secara keji.

Tubuhnya diikatkan pada dua ekor kuda yang kemudian disuruh lari ke arah yang berlawanan hingga badan Sultan Buol itu terbelah dua.

Belanda mulai meningkatkan tekanannya terhadap raja-raja di Sulawesi Tengah pada abad ke-18. Gubernur Paatbrugge mengirimkan pasukan bersenjata untuk memaksa raja-raja di wilayah itu agar datang ke Gorontalo atau Manado untuk mengucapkan sumpah setia kepada VOC. Dengan gaya dagang seperti itu Belanda berhasil menyingkirkan pesaing-pesaingnya dari Eropa dan sekaligus menguasai kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah.

Pada permulaan abad ke-20 kerajaan-kerajaan di wilayah Sulawesi Tengah telah diikat oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan lang contract dan korteverklaring. Terhadap kerajaan-kerajaan yang menolak perikatan itu, Belanda menghadapinya dengan kekerasan senjata. Kemudian wilayah kerajaannya dipecah-belah, misalnya Kerajaan Tojo Una-una dibagi menjadi Kerajaan Tojo dan Kerajaan Una-una. Kerajaan Sigi dipecah menjadi Kerajaan Sigi dan Kerajaan Dolo. Kerajaan Mori dipecah menjadi Kerajaan Mori dan Kerajaan Bungku. Demikian pula dengan Kerajaan Banggai. Kerajaan ini menjadi Kerajaan Banggai Daratan dan Kerajaan Banggai Lautan.

Pada umumnya yang dijadikan raja dari kerajaan baru itu adalah keluarga dekat dari keturunan raja sebelumnya, sehingga mengakibatkan terpecahnya wilayah kerajaan dan rakyatnya.

Pada tahun 1905 Belanda membagi Pulau Sulawesi menjadi dua propinsi yaitu Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Utara. Batas kedua propinsi tersebut adalah Pegunungan Tokolekayu di sebelah selatan Danau Poso. Propinsi Sulawesi Selatan dengan ibukotanya Makassar dipimpin oleh seorang gubernur dan Propinsi Sulawesi Utara dengan ibukotanya Manado dipimpin oleh seorang residen. Gubemur dan residen secara organisatoris berada langsung di bawah Gubernur jenderal Hindia Belanda yang berkedudukan di Batavia.

Kemudian tiap-tiap propinsi dibagi lagi dalam beberapa afdeling yang di kepalai oleh seorang asisten residen bangsa Belanda. Selanjutnya tiap afdeling dibagi pula dalam beberapa onderafdeling yang dikepalai oleh seorang controluer bangsa Belanda atau Indo Belanda.

Di bawah pemerintahan onderafdeling inilah ditemukan pemerintahan district dan landschap (kerajaan) yang di kepalai oleh kepala district atau oleh seorang raja yang diakui oleh pemerintah Hindia Belanda.

Pada periode 1903-1918 daerah Sulawesi Tengah yang kita kenal sekarang ini sebagian termasuk dalam wilayah Keresidenan Sulawesi Selatan dan sebagian lagi termasuk wilayah Keresidenan Sulawesi Utara. Yang termasuk wilayah Sulawesi Selatan (Oost Celebes) adalah Onderafdeling Kolondale yang terdiri dari Kerajaan Mori dan Bungku. Onderafdeling Banggai terdiri dari Kerajaan Banggai Daratan dan Banggai Lautan. Kemuthan yang termasuk wilayah Sulawesi Utara (Noord Celebes) adalah Onderafdeling Donggala yang meliputi Kerajaan Banawa dan Tawaeli, Onderafdeling Toli-Toli dengan Kerajaan Toli-Toli, Onderafdeling Palu yang meliputi Kerajaan Palu, Sigi Biromaru, Dolo, dan Kulawi. Onderafdeling Buol dengan Kerajaan Buol, Onderafdeling Poso yang meliputi Kerajaan Tojo, Una-una, Poso, dan Lore. Onderafdeling Parigi yang meliputi Kerajaan Parigi dan Moutong. Kemudian dengan terbentuknya Midden Celebes pada tanggal 28 Agustus 1903, maka di Donggala ditempatkan seorang asisten residen.

Sejarah mencatat bahwa pada permulaan abad ke-20 itu di daerah Sulawesi Tengah telah muncul pergerakan-pergerakan yang berbentuk perlawanan terhadap kekuasaan kolonial Belanda. Tetapi pergerakan ini dapat dipatahkan oleh penjajah dengan kekerasan.

Pada perkembangan selanjutnya muncul pergerakan-pergerakan yang berbentuk organisasi modern seperti di Pulau Jawa. Organisasi yang mula-mula masuk ke daerah ini adalah organisasi Syarikat Islam (SI) di daerah Buol ToliToli pada tahun 1916. Dengan cepat organisasi ini meluas ke daerah Donggala/Parigi pada tahun 1917, pesisir Mori pada tahun 1918 dan terus ke daerah Banggai / Luwuk pada tahun 1926. Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan Soekarno di Bandung tahun 1927 mulai berkembang di daerah Buol pada tahun 1928. Sesudah itu organisasi pergerakan kebangsaan lainnya di Pulau jawa membuka cabangnya pula di daerah ini, misalnya Muhammadiyah pada tahun 1932 dan PSII.

Keberadaan organisasi-organisasi ini akhirnya dirasakan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai ancaman. Karena itu banyak tokoh-tokoh pergerakan yang ditangkap dan diasingkan. Tokoh Syarikat Islam Datu Pamusu (Raja Dolo) diasingkan Belanda ke Ternate dan demikian pula tokoh SI lainnya seperti Yoto Daeng Pwindu DS dan Abd. Rahim yang ditangkap dan kemudian dikirim ke penjara Sukamiskin Bandung.

Kendati banyak tokoh pergerakan yang sudah ditangkap perkembangan organisasi-organisasi kebangsaan itu tetap dilanjutkan oleh tokoh-tokoh yang tidak tertangkap. Pada masa itu tercatat organisasi Syarikat Islam (SI) dan Muhammadiyah berkembang pesat di seluruh wilayah Sulawesi Tengah. Paham-paham baru yang dibawa oleh partai-partai politik dan organisasi keagamaan inilah yang menyebabkan masyarakat Sulawesi Tengah cepat menyambut dan menerima Gerakan Merah Putih yang dipimpin oleh Nani Wartabone dan Kusna Danupoyo di Gorontalo pada bulan Februari 1942.

Gerakan ini mengirim utusan utusan ke berbagai tempat di Sulawesi Tengah agar secara serentak dapat melaksanakan perebutan kekuasaan begitu tentara Jepang menyerah kepada Sekutu.

Puncak perlawanan meletup pada tanggal 25 januari 1942 ketika terjadi pemberontakan dan pembunuhan kepala polisi Belanda Inspektur Boertje di Buol. Para pemberontak yang dipimpin oleh I.D. Awuy itu kemudian menangkap Controluer Toli-Toli De Hoof dan Bestuur Asisten Residen Matata Daeng Masese. Pada tanggal 26 januari 1942 pemberontak menangkap pula Controleur Buol de Vries.

Dengan tertangkapnya tokoh-tokoh kolonial ini maka praktis kekuasaan pemerintahan Belanda dapat diakhiri. Gerakan Merah-Putih yang dipimpin oleh I.D. Awuy bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya seperti H. Mahmuda, S.A. Alatas, H. Hamdi, H. Ibrahim, H. Said, M. Tahir, M. Yamin, dan A. Rasyid segera mengatur pemerintahan dan keamanan.

Pada tanggal 1 Februari 1942 Sang Merah Putih berhasil dikibarkan untuk pertama kalinya di angkasa ToliToli. Pengibaran bendera ini dipimpin oleh M.S.H. Mallu dan yang menjadi pengerek bendera adalah M. Nawawi dan H. Hamid.

Keadaan ini ternyata tidak berlangsung lama, karena seminggu kemudian pasukan Belanda dipimpin Letnan Herberts segera mendarat di Toli-Toli dan menggempur kedudukan pasukan pemberontak. Sejak itu gerakan perlawanan semakin memanas dan meningkat. Di Luwuk pada tanggal 12 Februari 1942, para pejuang menyekap seluruh aparat pemerintah Belanda dan mengibarkan Merah Putih di kota itu. Situasi berubah dengan mendaratnya pasukan Jepang di Luwuk pada tanggal 15 Mei 1942.

Mulanya kedatangan bala tentara jepang disambut baik oleh rakyat yang selama pemerintahan kolonial Belanda merasa kehidupannya tertekan. Terlebih pula sebelum mendarat di daerah ini jepang sudah menyiarkan propaganda-propaganda yang menarik hati rakyat. Tetapi kemudian ternyata jepang memerintah dengan tangan besi dan memperlakukan rakyat sebagai budak. Kehidupan rakyat semakin tertekan dan seluruhnya diarahkan untuk mendukung mesin perang Jepang. Rakyat hidup dalam ketakutan. Keadaan seperti itu berubah setelah Jepang menyerah kepada sekutu secara tak bersyarat pada tanggal 15 Agustus 1945, yang kemudian disusul dengan Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun bagi Sulawesi Tengah, seperti nasib beberapa daerah lainnya di Indonesia, suasana gembira menyambut kemerdekaan tidak berlangsung lama. Sebab tak lama kemudian Belanda kembali berkuasa dengan membonceng pasukan Sekutu yang datang untuk menerima penyerahan Jepang. Belanda segera mendirikan "Negara Indonesia Timur" - tindakan memecah-belah bangsa yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab lamanya proses terbentuknya Sulawesi Tengah sebagai salah satu propinsi Republik Indonesia.

Sumber: Perpustakaan Daerah Propinsi
Jl. Banteng No. 6 Palu Telp. (0451) 482490

(Sumber: http://www.infokom-sulteng.go.id)
 

Komentar:




Home : scriptintermedia.com
 
Berita Lain
Pilkada Sulsel Jadi Ajang Pemanasan Pilpres 2014

Pasangan Calon Perlu Konsultan Hukum

Nomor Urut pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Jepara 2012

2012, Tahun Pilgub Sulsel

Pemilukada Serentak Bisa Jadi Bumerang

2012, Jateng akan Gelar Pilkada di Lima Daerah

Biografi/Profil Muhammad Nazar


Untitled Document
 



    Portfolio Real Quick Count Pilkada

- Pilgub Sulteng (Sulawesi Tengah)
- Pilgub Banten
- Pilgub Sulbar (Sulawesi Barat)
- Pemilukada Kota Jogja
- Pemilukada Kab. Buru, Maluku
- Pemilukada Torut Put. 2
- Pemilukada Malinau, Kaltim
- Pemilukada Kubar, Kaltim
- Pemilukada Rokan Hulu, Riau
- Pemilukada Nunukan, Kaltim
- Pemilukada Sragen, Jateng
- Pemilukada Kaur, Bengkulu
- Pemilukada Sarolangun, Jambi

Selanjutnya...



Untitled Document
 

 

    Artikel IT
Inilah Cara Internet Selamatkan Jepang

Pentingnya Teknologi Informasi untuk kesinambungan bisnis

Laporan Malware 2010: 10 Ancaman Teratas Setahun Terakhir

Inilah Inovator Muda Finalis IWIC 2010

PIN BlackBerry Jadi Alat Jejaring Sosial

Pendiri Facebook Menjadi Tokoh Tahun Ini

Ancaman Baru di Era Twitter dan Facebook

    IT News
Plus Minus Windows 8

Daftar 17 Teknologi Akan Memudar di 2012

Sulap Akun Fb jadi Sarana Promosi Diri

10 Kisah Terbesar Dunia Teknologi di 2011

5 Jurus Menangkal Rayuan Virus di Chat Facebook

5 Kiat Aman Belanja Online

10 Teknologi Strategis untuk 2011

    Berita Umum
2 Pembalap Bone Juara di Clas Mild Road Race

TNBNW Rusak, Gorontalo Bisa Tenggelam

Asuransi Delay Diberlakukan Januari 2012

Syahrul Jadi Ketua APPSI, Muallim Ketum Forsesdasi

Nanan Soekarna Ketua Umum PP IMI

Abraham Samad pimpin KPK

Peluang Kajian Keterbukaan Informasi Publik

+ Index   
 Copyright ©2010 Script Intermedia - All rights reserved
 Please send any comments to  webmaster@scriptintermedia.com